Rabu, 17 Agustus 2011

ARYA KETUT PUCANGAN


Di ceritakan Arya kenceng sekian tahun lamanya berputralah seorang laki-laki kelahiran brahmana.Setelah remaja putranya selalu berteman dengan putra Dalem atau putra Arya Sentong yang sama-sama kelahiran brahmana.Tidak lama kemudian wafatlah Arya Kenceng.Tak sedikit kesedihan di pihak punggawa bahudanda.Kini saatnya upacara pelebon dilaksanakan sesuai dengan amanat Dalem agar memakai Bade tingkat sebelas.Upacara ini diwariskan pada seluruh keturunannya hingga kini.Untuk Sanghang Pitra dibuatkan suatu pedarman bernama Batur.Tempat ini menjadi tempat persembahyangan para leluhur dan keluarganya selama-lamanya.
                Sepeninggal Arya Kenceng  yang memerintah Tabanan,beliau meninggalkan tiga orang putra dan seorang putri.Yang tertua bernama Dewa Raka bergelar MegadaPrabhu,yang kedua bernama Dewa Made bergelar Sri Magada Nata,yang kemudian menjadi Arya Ngurah Tabanan,kedua-duanya kelahiran brahmana.Dua putra yang sedang jejaka bernama Kyai Tegeh (Tegeh Kori)mengikuti adiknya terbungsu (wanita)yang lahir dari Tegeh Kori.Tersebutlah keempat putra raja,dimana Sri Magada Prabhu tidak suka menerima amanat menggantikan kedudukan ayahnya,karenanya diserahkan kepada Sri Magada Nata untuk menggantikan kedudukan ayahnya yang bergelar Arya Ngurah Tabanan.
                Sedangkan Kyai Tegeh Kori mencari tempat baru di daerah Badung,disebelah utara kuburan Badung ,beliaulah yang membuat bendungan di Desa Pegat,dan menurunkan wangsa Tegeh Kori.Yang bungsu menetap di keraton. Diceritakan Sri Magada Prabhu dan Sri Magada Nata keduanya sama-sama pemberani dan perwira serta sakti tak terklahkan dalam medan pertempuran,beliau biasa bermain-main selalu berlatih pedang dalam perang tanding.Beliau sama- sama kebal,Sri Magada Prabhu mempunyai seorang Putri,dipelihara oleh yang memerintah di Pucangan.Ada lagi putra angkatnya,yaitu :Ki Tegeh Buwahan,Ki Bendesa di Tajen, Ki Telabah di Rejasa sama-sama keturunan Ngurah Tegeh Alo,Ki Bendesa Beng keturunan Pasek Buduk.tak diceritakan semuanya.
                Diceritakan Sri Magada Prabhu setelah beberapa tahun lamanya,akhirnya wafat dan meninggalkan keturunannya.Kembali diceritakan Sri Magada Nata atau Sri Arya Ngurah Tabanan beliau sangat terkenal dan berwibawa serta bijaksana dalam mengamankan Negara.Beliau selalu menghadap Dalem Ketut yang bergelar Sri Smara Kepakisan yang beristana di Swecapura Linggarsapura,Sukasada atau Gelgel dan sebagai putra dalem,oleh Dalem Wau Rauh.Yang terakhir adalah Sri Kresna Kepakisan beristana di Samprangan(sebagai adik oleh dalem Ile).Arya Ngurah Tabanan berputra 7 orang,lahir dari dua ibu para sanghyang.Yangtertua bernama Arya Ngurah Langwang,yang kedua Ki Gusti Madyatara(Ki Gusti Made Kaler),Yang ketiga bernama Ki Gusti Ketut Dangin Pangkung.Dan yang lain ibu adalah Ki Gusti Nengah Samping Boni,Ki Gusti Nyoman Ancak, dan Ki Gusti Ketut Lebah.
                Diceritakan selama Sri Magada Nata memerintah di Tabanan,timbullah sesuatu atas kehendak Sanghyang Parama Kawi,dimana ajumpung rambut Dalem sejak kecil.dalem melimpahkan kepercayaan dan perhatian  yang sangat besar ,lalu diutuslah untuk pergi ke Jawa meninjau kerajaan Wilwatikta.Sungguh sepi keadaan Negara.Terjadilah huru-hara yang dilakukan oleh bahudanda dan golongan petani karena masuknya agama Islam Akhirnya beliau kembali ke Bali.Tiada diceritakan tentang perjalanan beliau, tersebutlah adiknya di Pucangan yang di peristri oleh Dalem Gelgel,diserahkan kepada Kyai Asak  di Desa Kapal yang masih berkemenakan Arya Wongaya Kepakisan,seorang kesatria dari Kediri.Sesampai Sri Magada Nata di Keraton,akhirnya menghadap Dalem  dan diketahui adiknya diserahkan Kyai Asak.Sedih dan Marah hatinya terhadap Dalem.Maka beliau menyerahkan keraton dengan segala isinya dan kekuasaan Negara kepada putranya  yang tertua  bernama Arya Langwang dan tetap bergelar Arya Ngurah Tabanan.Sri Magada Nata berkeinginan meninggalkan keratin dan mendirikan sebuah pondok di tengah hutan,di sebelah tenggara keratin Pucangan yang dinamai Kubon Tingguh.Tempat itu merupakan tempat berduka cita.Kemudian beliau menikah dengan putrid Bendesa Pucangan yang masih kemenakan sepupu dari yang berasrama di Kubon Tingguh.Lahirlah seorang putra yang sangat sempurna bernama Kyai Ketut Bendesa(Kyai Pucangan).Setelah pantas memakai kain dan keris lalu diserahkan kepada keluarga Ngurah Tabanan dan menetap bersama-sama di daerah Buwahan.Disana beliau merasakan kebahagiaan.Setelah beberapa tahun berasrama di Kebon Tingguh,beliau wafat.Diselenggarakan upacara menurut adat raja sebagaimana mestinya.
                    Tersebutlah kisah Kyai Pucangan,kini telah remaja tetapi tak pernah tidur di keratin.setiap malam beliau tidur di rumah seorang petani atau dibalai banjar,tempat-tempat berjualan,dan di pondok-pondok orang. Tujuanya untuk menyelami kemelaratan hidup dan kebahagiaan nyata sehari-hari .Karenanya ,jika malam hari selalu ada yang berjalan-jalan,melihat nyala api di tepi jalan.Tentu orang akan menuduh ini akibat ulahnya.Jika sudah dekat api seketika lenyap dan hanya Arya Ketut Pucangan yang tampak sedang tidur.Semakin banyak orang mengetahui hal itu.Setiap Arya Ketut Pucangan sedang tidur disana selalu Nampak api menyala.Hal itu terdengar oleh Prabhu Pucangan,lalu memerintahkan adiknya Kyai Pucangan  untuk merabas pohon beringin di luar keraton karena telah besar dan tinggi,takut akan malapetaka olehnya.Sebelumnya tak ada orang yang berani merabas pohon beringin diluar keraton tersebut,namun Kyai Pucangan tak berpikir panjang lebar, beliau terus memanjat serta merabas dengan belakas(sejenis golok).Sekejap mata cabang- cabangnya habis dirabas.Tinggal  puncaknya menjulang tinggi dan terus di panjat dan ditebang.Setelah itu lalu naik kepuncaknya dan duduk sambil menunjukkan kepada khalayak ramai atas keberaniannya.Melihat hal itu orang menjadi heran dan kaget dan ngeri.Barulah teringat akan hubungan kekeluargaan dengan Prabhu Buwahan pada Zaman dahulu.Jugaterhadap keluarga-keluarga lainya sama-sama dari satu  keturunan.Sangat mengherankan keberanian Kyai Ketut Pucangan ,beliau dititahkan untuk turun.Mendengar perintah raja,maka Ketut Pucangan lalu turun dan menghadap.Sejak itulah Ketut Pucangan di beri gelar Ketut Notor Wandira,dan juga anugrah sebilah keris bernama I Cekele.
                Kini diceritakan Arya Notor Wandira telah dewasa beliau mengambil istri dari Desa Buwahan.Mempunyai dua orang putra bernama Kyai Gede Raka dan Kyai Gde Rai.Setelah berputra,berkeinginan memegang tampuk pemerintahan,karenanya beliau melakukan semadi ke gunung Beratan dan Batukaru.Tidak diceritakan dalam yoga semadinya,terdengarlah sabda”Wahai Sang Arya Notor Wandira,aku tak wajar menganugrahi kau sesuatu.Sebaiknya kau pergi ke Gunung Batur,memohonlah kepada Bhatari Danu.Tentu kau akan dikabulkan!” Setelah demikian,dn berhentikanlah yoga semadinya dan pulang kerumah.Tak terungkapkan setiba di keratin,sehingga pada suatu masa selalu berkunjung kemana-mana.Sampailah di Desa Tambiak dan bertemu dengan anak laki-laki berwajah hitam,berambut merah,bergigi putih yang lahir dari belahan batu di Pura Tambiak.Lalu ditanyakankeadaan dirinya,dia tak tahu akan dirinya.Itu sebabnya dipungut dijadikan hamba sahaya oleh Arya Notor Wandira,dinamai Ki Tambiak yang kemudian bernama Andagula.Pada suatu ketika teringatlah akan sabda Betara Batukaru,lalu berangkat bersama ki Tambiak ke Selegiri.Namun jalannya salah arah karena kegelapan,akhirnya tiba di Panarajon.Di situlah mulai melakukan yoga semadi,memohon kepada Sanghayang Wisesa.Tiba-tiba nampaklah Sanghyang Panarajon dan bersabda,”wahai Kyai Pucangan,perbuatanmu ini salah terhadapku,aku Hyang Panarajon,aku Sedahan Sanghyang Batur.Hentika yoga semadimu,pergilah ke Gunung Batur,aku akan menyertai perjalananmu!”Akhirnya dihentikanlah yoga semadinya.Perjalanan diteruskan kearah tujuan diikuti oleh Ki Tambiak.Tak lama kemudian sampailah di Selegiri,dan terus duduk beryoga.Pada waktu itu Nampak olehnya Sanghyang Danu,seraya bersabda”Duh Kyai Pucangan,Hentikanlah yoga semadimu ,akan aku penuhi permintaanmu.Aku tahu akan cita-citamu .Bantulah aku menyeberangi danau!Walau seberat itu Syaratnya Arya Pucangan tak menolaknya.Bahkan makin teguh hatinya,beliau tidak merasa takut karena tanpa berdasarkan rajah tamah.Lalu diusunglah Bhatari Danu ketengah danau,namun pergelangan kakinya tidak tenggelam.Dengan demikian,sampailah di tepi danau Bersabdalah Bhatari Danu”nah selesailah ujian yang kuberikan.Kau Arya Pucangan tercapailah cita-citamu sebagai prabhu.Pergilah daerah Badung menghadap Anglurah Tegeh Kori.Di sana akan mendapat kebahagiaan hidup.”Demikian sabda Bhatari,yang selalu diantar oleh Hyang Panarajon.Kemudian beliau kembali ke Buwahan bersama Ki Tambiak.
                Tak diceritakan Arya Notor Wandira di keratin ,beliau bersama Ki Tambiak menuju Badung,bermalam di rumah De Beruyut Lumintang.Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan bersama De Beruyut Lumintang.Setibanya di persawahan Tegal lalu menghadap ke keraton.Nampak Kyai Tegeh Kori didampingi oleh beruyut Tegal.Kyai Pucangan Menghaturkan sembah sujud bersama keluarganya.Bergembiralah yang berkedatangan tamu,lebih-lebih masih hubungan sanak keluarga.Dikemudian hari berputralah beliau dan di beri nama Kyai Nyoman Tegeh.Putra Kyai Ngurah Tegeh Kori adalah Kyai  Gede Tegeh dan Kyai Made Tegeh,keduanya berkelakuan tidak baik dan tidak tahu dharma kerajaan hanya mengejar kepuasan nafsu dan tak mau mendengar nasehat orang tua.Disitulah Kyai Nyoman Tegeh ditetapkan dirumah Mekel Tegal  disertai rakyat 25 orang.Demikianlah perjalanan hidup Kyai Pucangan yang selalu mendampingi Kyai Ngurah Tegeh Kori,sehingga merasa berbahagia sebagai seorang satria utama dan Kyai Pucanganlah yang mendirikan Puri Pemecutan(kerajaan Bandana).         

1 komentar:

IGM Darmaweda mengatakan...

Sesuai dengan referensi yang pernah saya baca:
- menyebutkan bahwa sebelum Kyai Ketut Wandira menuju daerah yang ditunjuk (Badeng), Ida Bhetari Danu memberikan bhisama, di antaranya 1. Membangun sebuah Pura, 2. Membangun kerajaan, 3. Membangun Pasar, dan lainnya tiang lupa.
- I Cekele memang sebilah keris, tetapi tidak disebutkan banyak luk nya?. Apakah penulis tahu, berapa luk keris I Cekele? Di mana keberadaannya sekarang? Kira-kira pusaka tersebut masih adakah?
Terimakasih.

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons