Topeng Dalem Sidakarya

di pentaskan dalam upacara keagamaan di Bali

Barong

Barong adalah Simbol Kebaikan

Rangda

Simbol dari kekuatan Betari Durga atau Hyang Durga Bairawi

Barong Landung

Simbol Dalem balingkang dan Dewi Kang Cing Wei

Barong dan Rangda

simbol penjaga Kekuatan Bali

Selasa, 19 April 2016

Lontar Leak Bali dan Jenis Pengleakan

Lontar Leak Bali dan Jenis Pengleakan

Di pulau Bali,  Lontar adalah sebagai salah satu Sastra dari daun-daun pohon siwalan yang sudah tua. Lontar dengan segala isinya merupakan salah satu warisan kekayaan rohani orang Bali yang memiliki arti yang sangat penting dan strategis. Sastra / Lontar-lontar di Bali, secara kualitatif maupun kuantitatif memiliki nilai yang sangat berharga.

Pembagian kepustakaan lontar Bali lebih disistematiskan menjadi :

Weda (weda, mantra, kalpasastra);
Agama (palakerta, sasana, niti);
Wariga (wariga, tutur, kanda, usada);
Itihasa (parwa, kakawin, kidung, geguritan);
Babad (Pamancangah, usana, uwug), dan
Tantri (tantri, satua).
Pada artikel ini  akan sedikit mengungkapkan dari salah satu Lontar yang dalam kategori Trantra dan saya spesifikan isinya khusus pada bagian Pangleakan. Sebagai  refrensi tentang lontar pengleakan diantaranya; “Lontar Tantra Bhairawa, Kanda Pat dan Siwa Tantra”.

Istilah Tantrayana berasal dari akar kata Tan = yang artinya memaparkan kesaktian atau kekuatan daripada Dewa itu. Di India penganut Tantrisme lebih banyak terdapat di India Selatan dibandingkan dengan India Utara.

Kitab kitab yang memuat ajaran Tantrayana banyak sekali kurang lebih ada 64 macam antara lain : Maha Nirwana Tantra, Kularnawa Tantra, Tantra Bidhana, Yoginirdaya Tantra, Tantra sara, dsb.
Dari Tantrisme munculah suatu faham “BHIRAWA” yang artinya hebat.

Paham Bhirawa secara khusus memuja kehebatan daripada sakti, dengan cara cara yang spesifik.  Bhairawa inipun sampai berkembang ke Cina Tibet, dan Indonesia.
Di Indonesia masuknya saktiisme, Tantrisma dan Bhairawa, dimulai sejak abad ke VII melalui kerajan Sriwijaya di Sumatra, sebagaimana diberikan pesaksian oleh prasasti Palembang tahun 684, berasal dari India selatan dan tibet.

Perkembangan Saktiisme di Bali juga menjurus dua aliran mistik yaitu “PENGIWE & PENENGEN”
Dari Pengiwa munculah pengetahuan tentang “LEYAK”.

DESTI = Serana, TELUH = cetik TARANJANA = yang bisa terbang dan WEGIG = bebeki.

Dari Penengen muncullah pengetahuan tentang “KEWISESAN” dan “PRAGOLAN” = mantra.

Pengiwa berasal dari sistem “Niwerti” dalam doktrin Bhairawa, sedangkan penengen berasal dari sistem “Prawerti” dalam doktrin Bhairawa.

Selain itu beberapa formula dalam Atharwa Weda mengilhami mistik ini. Adapun kitab kitab Tantrayana di Indonesia antara lain: TANTRA WAJRA DHASUBUTHI CANDARA BHAIRAWA dan SEMARA TANTRA

Pada Jaman Raja Udayana yang berkuasa di Bali pada abab ke 16, saat I Gede Basur masih hidup yaitu pernah menulis buku lontar Pengeleakan dua buah yaitu “Lontar Durga Bhairawi” dan “Lontar Ratuning Kawisesan”. Lontar ini memuat tentang tehnik-tehnik Ngereh Leak Desti.

Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut leak, yang ada adalah “liya, ak” yang artinya lima aksara(memasukkan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu.

Lima aksara tersebut adalah Si, Wa, Ya, Na, Ma.

Si adalah mencerminkan Tuhan.
Wa adalah anugerah,
Ya adalah jiwa.
Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan.
Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa.
Kekuatan aksara ini disebut panca gni(lima api). Manusia mempelajari kerohanian apapun, ketika mencapai puncaknya pasti akan mengeluarkan cahaya(aura), cahaya ini keluar melalui lima pintu(indria)tubuh yaitu: telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan namun pada umumnya cahaya itu keluar melalui mata dan mulut.

Tempat bermain-main leak adalah Kuburan. Apabila ada orang yang baru meninggal, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar roh orang yang meninggal mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya.

Doa leak tersebut berbunyi: Ong gni brahma anglebur panca maha bhuta, anglukat sarining merta. mulihakene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahotama. ong rang sah, wrete namah.
Di Bali kuburan sering identik dengan keramat, seram karena seling muncul hal-hal aneh.  kenapa ? karena disinilah tempatnya roh berkumpul dalam pergolakan spirit. Sensasi yang  datang  dari orang yang melakukan Pangleakan tersebut adalah bisa keluar dari tubuhnya melalui ngelekas atau ngerogo sukmo.
Kata ngelekas artinya kontraksi batin agar badan astral kita bisa keluar. Inilah alasanya orang ngeleak. Roh bisa berjalan keluar dalam bentuk cahaya melesat dengan cepat, inilah yang disebut endih. Bagi yang mempelajari kerohanian apa saja, apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura). Cahaya ini keluar melalui lima pintu indria tubuh yakni telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan.

Endih ini adalah bagian dari badan astral manusia (badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu). Di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain. Dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya.
Leak mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang dipelajari. Ada tujuh tingkatan leak :

Leak barak (brahma). Leak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api.
Leak bulan,
leak pemamoran,
Leak bunga,
leak sari,
leak cemeng rangdu,
leak siwa klakah. Leak siwa klakah inilah yang tertinggi. Sebab dari ketujuh cakranya mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya.
Tingkatan leak paling tinggi menjadi bade (menara pengusung jenasah), di bawahnya menjadi garuda, dan lebih bawah lagi binatang-binatang lain, seperti monyet, anjing ayam putih, kambing, babi betina dan lain-lain. selain itu juga dikenal nama I Pudak Setegal (yang terkenal cantik dan bau harumnya), I Garuda Bulu Emas, I Jaka Punggul dan I Pitik Bengil (anak ayam yang dalam keadaan basah kuyup).

Dari sekian macam ilmu Pengleakan, ada beberapa yang sering disebut seperti

Bajra Kalika yang mempunyai sisya sebanyak seratus orang,
Aras Ijomaya yang mempunyai prasanak atau anak buah sebanyak seribu enam ratus orang. Di antaranya adalah I Geruda Putih, I Geringsing, I Bintang Sumambang, I Suda Mala, Pudak Setegal, Belegod Dawa, Jaka Tua, I Pering, Ratna Pajajaran, Sampaian Emas, Kebo Komala, I Misawedana, Weksirsa, I Capur Tala, I Anggrek, I Kebo Wangsul, dan I Cambra Berag. Disebutkan pula bahwa ada sekurang-kurangnya empat ilmu bebai yakni I Jayasatru, I Ingo, Nyoman Numit, dan Ketut Belog. Masing-masing bebai mempunyai teman sebanyak 27 orang. Jadi secara keseluruhan apabila dihitung maka akan ada sebanyak 108 macam bebai.
Macam-macam ilmu pengLeakan lainnya :
Aji Calon Arang, Ageni Worocana, Brahma Maya Murti, Cambra Berag, Desti Angker, Kereb Akasa, Geni Sabuana, Gringsing Wayang, I Tumpang Wredha, Maduri Geges, Pudak Setegal, Pengiwa Swanda, Pangenduh, Pasinglar, Pengembak Jalan, Pemungkah Pertiwi, Penyusup Bayu, Pasupati Rencanam, Rambut Sepetik, Rudra Murti , Ratna Geni Sudamala, Ratu Sumedang, Siwa Wijaya, Surya Tiga Murti, Surya Sumedang, Weda Sulambang Geni, keputusan Rejuna, Keputusan Ibangkung buang, Keputusan tungtung tangis, keputusan Kreta Kunda wijaya, Keputusan Sanghyang Dharma, Sang Hyang Sumedang, Sang Hyang Surya Siwa, Sang Hyang Geni Sara, Sang Hyang Aji Kretket, Sang Hyang Siwer Mas, Sang Hyang Sara Sija Maya Hireng, dan lain-lain yang tidak diketahui tingkatannya yang mana lebih tinggi dan yang mana lebih rendah.
Hanya mereka yang mempraktekkan ilmu-ilmu tersebut yang mengetahuinya.

Setiap tingkat mempunyai kekuatan tertentu. Di sinilah penganut leak sering kecewa, ketika emosinya labil. Ilmu tersebut bisa membabi buta atau bumerang bagi dirinya sendiri. Hal inilah membuat rusaknya nama perguruan. Sama halnya seperti pistol, salah pakai berbahaya. Makanya, kestabilan emosi sangat penting, dan disini sang guru sangat ketat sekali dalam memberikan pelajaran.

Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta sumber penyakit, atau aji ugig bagi sebagian orang. Padahal ada aliran yang memang spesial mempelajari ilmu hitam disebut penestian. Ilmu ini memang dirancang bagaimana membikin celaka, sakit, dengan kekuatan batin hitam. Ada pun caranya adalah dengan memancing kesalahan orang lain sehingga emosi. Setelah emosi barulah dia bereaksi.
Pengwia banyak menggunakan rajah-rajah ( tulisan mistik) dan dia juga pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan “dijamin tidak bisa dirontgen dan di lab”. Aliran ini bertentangan dengan pengeleakan, apabila perang beginilah bunyi mantranya, “ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung leak, mapan aku mapawakan ………..”Sumber:http://www.komangputra.com/

Rabu, 31 Agustus 2011

Tradisi Ngejot Di Bali


Ngejot bagi kalangan adat masyarakat Bali adalah sebuah pemberian kepada orang lain dalam rangka sebuah kegiatan.Biasanya yang di-ejot atau diberikan tersebut adalah berupa makanan terkait dengan adanya suatu acara adat atau upacara tertentu yang dilaksanakan dimiliki oleh seseorang atau keluarga.Misalnya saja seseorang melakukan upacara selamatan anaknya seperti bulan pitung dina,otonan,odalan,nganten,metatah,atau yang lainya,kemudian yang punya gawe ngejot kepada masyarakat ,kepada saudaranya.Ngejot itu sendiri  memiliki fungsi sebagai rasa permakluman kepada yang diberi jotan bahwa yang ngejot tersebut memiliki acara tertentu.Yang kedua jotan itu dapat berfungsi  sebagai undangan untuk dating ketempat orang yang ngejot tersebut.Yang lain fungsinya adalah  untuk ucapan terima kasih karena yang diberi jotan tersebut telah membantu dalam penyelesaian sebuah upacara tertentu yang dilakukan oleh orang yang member jotan tersebut.
       Yang Di-jot-kan tersebut biasanya berupa nasi  berisi bermacam olahan seperti misalnya lawar,sate,jukut-jukut,be nyuh atau yang lain sesuai dengan keinginan yang ngejot tersebut.Bentuk nasi jotan tersebut  juga ada bermacam-macam.Ada yang berbentuk nasi ungkus/terbungkus,ada yabg berbentuk nasi punjung(dibentuk menggunakan wadah tertentu)dan lain-lain.Semua memiliki arti yang mendalam .Kalau nasi jotan tersebut berbentuk tetendingan lengkap dengan sate dan nasi punjungan maka jotan tersebut tidak saja sebagai sebagai sebuah permakluman namun juga mengandung makna sebagai sebuah undangan kepada yang diberikan jotan tersebut.Istimewanya lagi dari jotan tersebut dapat dilihat dari jumlah sate yang menyertai nasi tersebut.Kalau misalnya nasi dan lauk tersebut berisi sate dua batang,maka itu hanyalah sebuah permakluman.Jika satenya ada enam,delapan atau duabelas ini adalah suatu yang sangat istimewa sekali dan memang sangat diharapkan sekali kedatangannya dan orang yang diberikan sate roras(duabelas batang)tersebut dianggap sebagai seorang yang istimewa.Seperti misalnya surya atau Ida bagus,sangging atau tukang gender,atau orang-orang yang sangat berperan dalam sebuah upacara.
       Kemudian apabila dalam jotan tersebut ada nasi yang dibungkus biasa maka artinya hanyalah sebuah pemberitahuan atau sekedar ucapan terima kasih dan yang diberikan nasi jotan model demikian hanyalah orang-orang yang masih dalam lingkungan keluarga dekat.Dalam adat ngejot di Bali banyak sekali kasus yang tak diinginkan muncul seperti percekcokan keluarga akibat ngejot tersebut.Seperti misalnya ada salah seorang dari orang yang diberi jotan tersebut makan nasi jotan tersebut,kemudian dalam beberapa saat ia sakit perut,maka kontan saja orang yang memberi jotan tersebut menjadi sasaran tuduhan bahwa nasi jotan tersebut telah berisi cetik(racun).Demikian pula ada pula yang menitipkan cetik kepada orang yang tidak disukainya melalui nasi jotan tersebut.Seperti misalnya si A berselisih dengan si B,kemudian ada keluarga si C yang mempunyai hajatan,kemudian mengejot kepada si B.Maka si A menggunakan kesempatan jotan si C dengan memberikan cetik sehingga si B mengalami sakit.Jadi yang menjadi sasaran tuduhan kemudian adalah si C,sedangkan si A selamat.
       Ada lagi bahwa kejadian karena saking banyaknya ngejot ,ada salah satu atau lebih dari masyarakat atau tetangga ,bahkan sering sekali keluarga dekat tak dapat jotan.Sayang hal ini sering ditanggapi sebagai sebuah sentiment pribadi yang menyebabkan hubungan mereka menjadi tak harmonis.Padahah hal tersebut tak disengaja.Saking banyaknya ngejot dan jaraknya juga jauh,memerlukan waktu yang lama,sering sekali jotan sampai di tempat tujuan keadaannya sudah basi.Karena sudah basi kemudian oleh penerima jotan tersebut diberikan celeng atau dibuang.Nah pas suatu ketika ada yang melihat ketika nasi tersebut dibuang,kini kembali muncul masalah bahwa si Anu membuang nasi jotan yang diberikan si A sehingga akhirnya,disangka bahwa si Anu tak menerima nasi jotan,atau melecehkan jotan tersebut,sehingga apa yang terjadi ?ujung –ujungnya mereka menjadi tak tegur sapa akibat membuang nasi  jotan.Itulah nasi jotan yang memiliki nilai ganda,satu sebagai rasa persaudaraan ,keluarga,dan persatuan.Namun dilain pihak juga rentan menimbulkan suatu yang tak  diinginkan seperti beberapa contoh kejadian di atas.Yah itulah adat memang memiliki dua sisi.Namun sayang sekali kita lebih sering terjebak dalam sisi negative dari jotan tersebut,dan segaja membesar-besarkannya yang berujung pada sentimen pribadi,dan perpecahan dikalangan masyarakat adat.               

Rabu, 17 Agustus 2011

ENGKIK-ENGKIK ENGKIR


 Pernah mendengar burung engkik-engkik engkir? Atau  paling tidak mendengar suaranya yang rada-rada sedih memelas di kejauhan yang berbunyi”engkikkk… engkkiiikkk …engkiiiirrrrr….”suaranya mengundang rasa iba,kerena ia berbunyi kadangkala disiang hari,pagi hari bahkan pada malam hari.Rupa dari burung ini mirip seperti burung crucuk dengan ukuran yang juga sangat mirip.Biasa burung ini muncul ketika musim hujan akan berakhir yakni pada sasih kedasa atau sekitar bulan Maret – April.Burung ini muncul setiap setahun sekali,kemudian banyak mitos yang menyertai kehadiran burung ini.Konon burung ini akan melahirkan anaknya,namun sehabis melahirkan,maka dadanya akan pecah dan ia segera akan mati.Nah kedatangan kematiannya tersebutlah yang diratapi oleh burung tersebut dengan mengalunkan suara yang sedih.Diyakini pula burung ini adalah burung yang sedang meratapi nasibnya dengan megalunkan suara sedih engkik-engkik engkir.Katanya burung ini merasa sedih karena segera akan meninggalkan anaknya yang baru lahiruntuk ditinggal mati,tak ada yang mengasuh.Karena itulah ia menangis sedih pagi,siang dan malam.
       Kemudian ada mitos yang menyatakan bahwa burung ini adalah jelmaan dari atma-atma kesasar atau roh-roh gentayangan yang sedang mendapatkan hukuman.Atau roh-roh yang yang tak mengetahui dimana ia berada,karena ia diliputi oleh kebingungan dan ketakutan,sehingga dengan demikian ia merasa ketakutan dan mengumandangkan suara yang sedih di atas pohon.Terlepas dari mitos yang berkembang secara turun temurun di  masyarakat ,apa sebenarnya burung engkik-engkik engkir tersebut ?.Sejatinya burung tersebut adalah burung biasa dengan suara yang memeng mengalun sedih,terdengar sampai pada jarak yang cukup jauh.Memang begitulah kicauannya.Mengenai postur tubuhnya sangat  sangat mirip dengan burung crucuk,warnanya abu-abu,sedangkan di bagian kepala sedikit agak kelabu kebiruan.Kehadirannya pada bulan Maret – April.Karena memang burung ini adalah burung yang mengikuti arus hujan,sehingga ia harus bermigrasi dari satu tempat ketempat lainnya.Kebetulan bahwa hujan di Bali berlangsung pada bulan Nopember sampai  April maka burung ini muncul pada bulan Maret – April atau mungkin mendahului yakni pada bulan Februari,tergantung dari siklus hujan.Burung ini pada musim Maret – April itu adalah masanya untuk berkembang biak atau kawin dengan melantunkn suara yang merdu untuk menarik pasangan lawan jenisnya.Kedian ketika perkawinan berlangsung,burung ini tak punya keterampilan membuat sarang,sehingga untuk urusan bersarang ia harus menjadi parasit.Maksudnya adalah ia akan mencari sarang burung crucuk atau burung kepicitan atau burung cinglar yang sedang bertelur.Ketika pemilik sarang tak ada,maka burung engkik-engkik engkir tersebut bertelur disarang burung tersebut.Agar tidak kentara perbuatannya,maka ia menjatuhkan telur burung pemilik sarang,sehingga ketika datang burung pemilik sarang (burung crucuk atau cinglar)untuk mengeraminya,maka burung crucuk mengira bahwa ia mengerami telurnya sendiri.Padahal telur yang di eraminya adalah telur burung engkik-engkik engkir.Itulah sebabnya kalau di perhatikan disekitar burung engkik-engki engkir berbunyi,maka disekitarnya pasti ada burung crucuk atau burung cinglar.Mungkin disekitar tersebut sedang ada burung crucuk yang sedang bertelur.
       Setelah menetes,maka burung crucuk secara tak sengaja akan mengasuh anak dari burung engkik-engkik engkir. Ketika itu induk burung engkik-engki engkir tersebut telah meninggalkan daerah tersebut untuk bermigrasi kedaerah lainnya.Si burung burung pengasuh ini akan setia mengasuh dan membesarkan anak yang bukan anak kandungnya sendiri.Karena burung ini juga mirip dengan dirinya,demikian pula dengan telurnya ukurannya sangat mirip,sehingga tidak mengundang kecurigaan burung crucuk.Itulah kehidupan biologis dari burung engkik-engkik engkir yang curang.Ia mengorbankan anak orang lain demi kelangsungan hidup anaknya sendiri.Ia sendiri adalah bukan seekor burung yang trampil karena tak bisa membuat sarang .Burung ini juga burung malas,karena menyerahkan pengasuhan  anak pada burung lain.Ia adalah type burung yang sangat tega meninggalkan anaknya mengembara ke tempat-tempat yang ia ingini.Nah terkait dengan misteri  burung Engkik-engkik engkir yang ditandai dengan suara yang mengalun lantang,biasnya ia berbunyi diatas pucuk pohon yang tinggi.Dengan frekwensi serta suara yang sangat tinggi kuat dan ditempat yang tinggi,maka suaranya terdengar sampai kejarak yang jauh.Inilah pada jaman dahulu dipakai sebagai tanda Sasih Kedasa(Bulan kesepuluh dalam penanggalan Bali).Terkait dengan tanda dari burung ini,konon kabarnya Ida Cokorda Pemecutan dari Puri Pemecutan sangat meyakini kehadiran burung ini sebagai pertanda Sasih Kedasa.Konon sebelum Ida Cokorda Pemecutan mendengar burung tersebut berbunyi lantang,maka tidak akan diadakan upacara odalan atau Ngedasa di Pura Tambangan Badung.
       Demikian kabarnya mengenai misteri dari burung Engkik-engkik Engkir yang banyak diceritakan di Bali.                               

ARYA KETUT PUCANGAN


Di ceritakan Arya kenceng sekian tahun lamanya berputralah seorang laki-laki kelahiran brahmana.Setelah remaja putranya selalu berteman dengan putra Dalem atau putra Arya Sentong yang sama-sama kelahiran brahmana.Tidak lama kemudian wafatlah Arya Kenceng.Tak sedikit kesedihan di pihak punggawa bahudanda.Kini saatnya upacara pelebon dilaksanakan sesuai dengan amanat Dalem agar memakai Bade tingkat sebelas.Upacara ini diwariskan pada seluruh keturunannya hingga kini.Untuk Sanghang Pitra dibuatkan suatu pedarman bernama Batur.Tempat ini menjadi tempat persembahyangan para leluhur dan keluarganya selama-lamanya.
                Sepeninggal Arya Kenceng  yang memerintah Tabanan,beliau meninggalkan tiga orang putra dan seorang putri.Yang tertua bernama Dewa Raka bergelar MegadaPrabhu,yang kedua bernama Dewa Made bergelar Sri Magada Nata,yang kemudian menjadi Arya Ngurah Tabanan,kedua-duanya kelahiran brahmana.Dua putra yang sedang jejaka bernama Kyai Tegeh (Tegeh Kori)mengikuti adiknya terbungsu (wanita)yang lahir dari Tegeh Kori.Tersebutlah keempat putra raja,dimana Sri Magada Prabhu tidak suka menerima amanat menggantikan kedudukan ayahnya,karenanya diserahkan kepada Sri Magada Nata untuk menggantikan kedudukan ayahnya yang bergelar Arya Ngurah Tabanan.
                Sedangkan Kyai Tegeh Kori mencari tempat baru di daerah Badung,disebelah utara kuburan Badung ,beliaulah yang membuat bendungan di Desa Pegat,dan menurunkan wangsa Tegeh Kori.Yang bungsu menetap di keraton. Diceritakan Sri Magada Prabhu dan Sri Magada Nata keduanya sama-sama pemberani dan perwira serta sakti tak terklahkan dalam medan pertempuran,beliau biasa bermain-main selalu berlatih pedang dalam perang tanding.Beliau sama- sama kebal,Sri Magada Prabhu mempunyai seorang Putri,dipelihara oleh yang memerintah di Pucangan.Ada lagi putra angkatnya,yaitu :Ki Tegeh Buwahan,Ki Bendesa di Tajen, Ki Telabah di Rejasa sama-sama keturunan Ngurah Tegeh Alo,Ki Bendesa Beng keturunan Pasek Buduk.tak diceritakan semuanya.
                Diceritakan Sri Magada Prabhu setelah beberapa tahun lamanya,akhirnya wafat dan meninggalkan keturunannya.Kembali diceritakan Sri Magada Nata atau Sri Arya Ngurah Tabanan beliau sangat terkenal dan berwibawa serta bijaksana dalam mengamankan Negara.Beliau selalu menghadap Dalem Ketut yang bergelar Sri Smara Kepakisan yang beristana di Swecapura Linggarsapura,Sukasada atau Gelgel dan sebagai putra dalem,oleh Dalem Wau Rauh.Yang terakhir adalah Sri Kresna Kepakisan beristana di Samprangan(sebagai adik oleh dalem Ile).Arya Ngurah Tabanan berputra 7 orang,lahir dari dua ibu para sanghyang.Yangtertua bernama Arya Ngurah Langwang,yang kedua Ki Gusti Madyatara(Ki Gusti Made Kaler),Yang ketiga bernama Ki Gusti Ketut Dangin Pangkung.Dan yang lain ibu adalah Ki Gusti Nengah Samping Boni,Ki Gusti Nyoman Ancak, dan Ki Gusti Ketut Lebah.
                Diceritakan selama Sri Magada Nata memerintah di Tabanan,timbullah sesuatu atas kehendak Sanghyang Parama Kawi,dimana ajumpung rambut Dalem sejak kecil.dalem melimpahkan kepercayaan dan perhatian  yang sangat besar ,lalu diutuslah untuk pergi ke Jawa meninjau kerajaan Wilwatikta.Sungguh sepi keadaan Negara.Terjadilah huru-hara yang dilakukan oleh bahudanda dan golongan petani karena masuknya agama Islam Akhirnya beliau kembali ke Bali.Tiada diceritakan tentang perjalanan beliau, tersebutlah adiknya di Pucangan yang di peristri oleh Dalem Gelgel,diserahkan kepada Kyai Asak  di Desa Kapal yang masih berkemenakan Arya Wongaya Kepakisan,seorang kesatria dari Kediri.Sesampai Sri Magada Nata di Keraton,akhirnya menghadap Dalem  dan diketahui adiknya diserahkan Kyai Asak.Sedih dan Marah hatinya terhadap Dalem.Maka beliau menyerahkan keraton dengan segala isinya dan kekuasaan Negara kepada putranya  yang tertua  bernama Arya Langwang dan tetap bergelar Arya Ngurah Tabanan.Sri Magada Nata berkeinginan meninggalkan keratin dan mendirikan sebuah pondok di tengah hutan,di sebelah tenggara keratin Pucangan yang dinamai Kubon Tingguh.Tempat itu merupakan tempat berduka cita.Kemudian beliau menikah dengan putrid Bendesa Pucangan yang masih kemenakan sepupu dari yang berasrama di Kubon Tingguh.Lahirlah seorang putra yang sangat sempurna bernama Kyai Ketut Bendesa(Kyai Pucangan).Setelah pantas memakai kain dan keris lalu diserahkan kepada keluarga Ngurah Tabanan dan menetap bersama-sama di daerah Buwahan.Disana beliau merasakan kebahagiaan.Setelah beberapa tahun berasrama di Kebon Tingguh,beliau wafat.Diselenggarakan upacara menurut adat raja sebagaimana mestinya.
                    Tersebutlah kisah Kyai Pucangan,kini telah remaja tetapi tak pernah tidur di keratin.setiap malam beliau tidur di rumah seorang petani atau dibalai banjar,tempat-tempat berjualan,dan di pondok-pondok orang. Tujuanya untuk menyelami kemelaratan hidup dan kebahagiaan nyata sehari-hari .Karenanya ,jika malam hari selalu ada yang berjalan-jalan,melihat nyala api di tepi jalan.Tentu orang akan menuduh ini akibat ulahnya.Jika sudah dekat api seketika lenyap dan hanya Arya Ketut Pucangan yang tampak sedang tidur.Semakin banyak orang mengetahui hal itu.Setiap Arya Ketut Pucangan sedang tidur disana selalu Nampak api menyala.Hal itu terdengar oleh Prabhu Pucangan,lalu memerintahkan adiknya Kyai Pucangan  untuk merabas pohon beringin di luar keraton karena telah besar dan tinggi,takut akan malapetaka olehnya.Sebelumnya tak ada orang yang berani merabas pohon beringin diluar keraton tersebut,namun Kyai Pucangan tak berpikir panjang lebar, beliau terus memanjat serta merabas dengan belakas(sejenis golok).Sekejap mata cabang- cabangnya habis dirabas.Tinggal  puncaknya menjulang tinggi dan terus di panjat dan ditebang.Setelah itu lalu naik kepuncaknya dan duduk sambil menunjukkan kepada khalayak ramai atas keberaniannya.Melihat hal itu orang menjadi heran dan kaget dan ngeri.Barulah teringat akan hubungan kekeluargaan dengan Prabhu Buwahan pada Zaman dahulu.Jugaterhadap keluarga-keluarga lainya sama-sama dari satu  keturunan.Sangat mengherankan keberanian Kyai Ketut Pucangan ,beliau dititahkan untuk turun.Mendengar perintah raja,maka Ketut Pucangan lalu turun dan menghadap.Sejak itulah Ketut Pucangan di beri gelar Ketut Notor Wandira,dan juga anugrah sebilah keris bernama I Cekele.
                Kini diceritakan Arya Notor Wandira telah dewasa beliau mengambil istri dari Desa Buwahan.Mempunyai dua orang putra bernama Kyai Gede Raka dan Kyai Gde Rai.Setelah berputra,berkeinginan memegang tampuk pemerintahan,karenanya beliau melakukan semadi ke gunung Beratan dan Batukaru.Tidak diceritakan dalam yoga semadinya,terdengarlah sabda”Wahai Sang Arya Notor Wandira,aku tak wajar menganugrahi kau sesuatu.Sebaiknya kau pergi ke Gunung Batur,memohonlah kepada Bhatari Danu.Tentu kau akan dikabulkan!” Setelah demikian,dn berhentikanlah yoga semadinya dan pulang kerumah.Tak terungkapkan setiba di keratin,sehingga pada suatu masa selalu berkunjung kemana-mana.Sampailah di Desa Tambiak dan bertemu dengan anak laki-laki berwajah hitam,berambut merah,bergigi putih yang lahir dari belahan batu di Pura Tambiak.Lalu ditanyakankeadaan dirinya,dia tak tahu akan dirinya.Itu sebabnya dipungut dijadikan hamba sahaya oleh Arya Notor Wandira,dinamai Ki Tambiak yang kemudian bernama Andagula.Pada suatu ketika teringatlah akan sabda Betara Batukaru,lalu berangkat bersama ki Tambiak ke Selegiri.Namun jalannya salah arah karena kegelapan,akhirnya tiba di Panarajon.Di situlah mulai melakukan yoga semadi,memohon kepada Sanghayang Wisesa.Tiba-tiba nampaklah Sanghyang Panarajon dan bersabda,”wahai Kyai Pucangan,perbuatanmu ini salah terhadapku,aku Hyang Panarajon,aku Sedahan Sanghyang Batur.Hentika yoga semadimu,pergilah ke Gunung Batur,aku akan menyertai perjalananmu!”Akhirnya dihentikanlah yoga semadinya.Perjalanan diteruskan kearah tujuan diikuti oleh Ki Tambiak.Tak lama kemudian sampailah di Selegiri,dan terus duduk beryoga.Pada waktu itu Nampak olehnya Sanghyang Danu,seraya bersabda”Duh Kyai Pucangan,Hentikanlah yoga semadimu ,akan aku penuhi permintaanmu.Aku tahu akan cita-citamu .Bantulah aku menyeberangi danau!Walau seberat itu Syaratnya Arya Pucangan tak menolaknya.Bahkan makin teguh hatinya,beliau tidak merasa takut karena tanpa berdasarkan rajah tamah.Lalu diusunglah Bhatari Danu ketengah danau,namun pergelangan kakinya tidak tenggelam.Dengan demikian,sampailah di tepi danau Bersabdalah Bhatari Danu”nah selesailah ujian yang kuberikan.Kau Arya Pucangan tercapailah cita-citamu sebagai prabhu.Pergilah daerah Badung menghadap Anglurah Tegeh Kori.Di sana akan mendapat kebahagiaan hidup.”Demikian sabda Bhatari,yang selalu diantar oleh Hyang Panarajon.Kemudian beliau kembali ke Buwahan bersama Ki Tambiak.
                Tak diceritakan Arya Notor Wandira di keratin ,beliau bersama Ki Tambiak menuju Badung,bermalam di rumah De Beruyut Lumintang.Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan bersama De Beruyut Lumintang.Setibanya di persawahan Tegal lalu menghadap ke keraton.Nampak Kyai Tegeh Kori didampingi oleh beruyut Tegal.Kyai Pucangan Menghaturkan sembah sujud bersama keluarganya.Bergembiralah yang berkedatangan tamu,lebih-lebih masih hubungan sanak keluarga.Dikemudian hari berputralah beliau dan di beri nama Kyai Nyoman Tegeh.Putra Kyai Ngurah Tegeh Kori adalah Kyai  Gede Tegeh dan Kyai Made Tegeh,keduanya berkelakuan tidak baik dan tidak tahu dharma kerajaan hanya mengejar kepuasan nafsu dan tak mau mendengar nasehat orang tua.Disitulah Kyai Nyoman Tegeh ditetapkan dirumah Mekel Tegal  disertai rakyat 25 orang.Demikianlah perjalanan hidup Kyai Pucangan yang selalu mendampingi Kyai Ngurah Tegeh Kori,sehingga merasa berbahagia sebagai seorang satria utama dan Kyai Pucanganlah yang mendirikan Puri Pemecutan(kerajaan Bandana).         

Rabu, 10 Agustus 2011

KUNTI SRAYA

Dikisahkan di negeri Pandawa terjadi kekacauan yang disebaban oleh para Bhuta Kala yakni Bhuta Kalantaka dan Bhuta Kalanjaya.Terjadi malapetaka dan wabah penyakit,rakyat menjadi kacau dan tidak menentu.Berbagi upaya dilakukan untuk menaklukan kedua bhuta kala tersebut namun tidak berhasil.Kedua bhuta kala ini tidak dapat dikalahkan oleh para kesatria Pendawa bahkan Kresna pun turun tangan untuk menghadapi kedua bhuta kalaini,namun tidak bisa berbuat banyak.Kejadian ini diketahui oleh Dewi Kunti yang ternyata disebabkan oleh pengikut Betari Dalem(dewi Dhurga).Dewi Kunti berujar kepada Krisna "Coba saya yang akan bertanya kepada Bhetari Durga".Dewi Kunti kemudian bertanya kepada Betari Dalem(Dewi Dhurga).
      Dewi Kunti berangkat menuju ke Setra Gandamayu menghadap Ida Betari Dhurga.Setelah melakukan ritualnya,Kemudian Ida Betari Dalem menampakan diri beliau.Dewi Kunti bertanya kepada Hyang Betari kenapa kejadian di negeri Pendawa bisa terjadi ,apa sebabnya ? Betari bersabda "anakku Kunti,kau telah lupa dengan janjimu terdahulu kepadaku.Kau pernah berjanji memberikan anakmu sebagai korban kepada-Ku,ketika engkau meminta tolong kepada-Ku untuk menyelamatkan Pandawa ketika mendapat bahaya di goa gala-gala".Atas sabda dari Ida Betari Dhurga maka Dewi Kunti ingat dengan janjinya untuk menghaturkan anaknya yang kembar yakni Nakula dan Sahadewa kepada Ida Hyang Betari Dalem.Dewi Kunti urung melakukannya karena bagaimanapun kedua anak itu (Nakula dan Sahadewa) adalah anaknya walaupun anak itu anak tiri.Bagaimana kata masyarakat sampai harus mengorbankan anaknya sendiri untuk hal-hal yang tidak diinginkan.Itulah yang membuat murka Hyang Betari Dalem dan mengutus Kalika Maya (murid kepercayaan Betari) untuk masuk kedalam tubuh Dewi Kunti,yang menyebabkan Dewi Kunti menjadi kerasukan dan kehilangan kontrol.Dalam keadaan Kerasukan tersebut Dewi Kunti mengambil kedua putranya (Nakula-Sahadewa) untuk menghaturkan kepada Hyang Betari.
      Dewi Kunti yang dirasuki oleh Kalika Maya berhasil membawa Nakula-Sahadewa kehadapan Hyang Betari.Hyang Betari melihat dan ingin menaklukannya beberapa kali sebagai korban, namun tidak berhasil.Setelah dilihat-Nya secara baik-baik oleh Hyang Betari,beliupun merasakan keanehan kepada kedua anak ini.Akhirnya Hyang Betari mengetahui siapa sebenarnya kedua anak ini dan teringat pesan dari Betara Siwa.Kedua anak ini adalah penjelmaan Sanghyang Kumara-Kumari yang tidak lain adalah putra dari Betara Siwa dan Dewi Uma.Dulu ketika di Siwa Loka Hyang Betari Dalem adalah perwujudan Dewi Uma.Pada saat itu Dewi Uma memperlakukan Sanghyang Kumara-Kumari secara tidak adil (dianiaya).Kejadian ini diketahui oleh Betara Siwa yang akhirnya mengutuk Dewi Uma menjadi raksasa yang turun ke bumi  menjadi Hyang Bhairawi  berdiam di Setra Gandamayu.Adapun pesan Dewa Siwa kepada Dewi Uma sebelum turun ke bumi"Hai Dewi Uma,saat kau turun ke bumi kau akan menjadi raksasa (Bhairawi),tatkla Hyang Kumara-Kumari menjelma menjadi sepasang anak kembar,maka saat itulah kau memohon maaf dan mendapat penyupatan,untuk kembali menjadi Dewi Uma.Teringat akan hal tersebut,akhirnya Hyang Betari memohon maaf dan meminta penyupatan kepada kedua anak tersebut.Berubahlah Hyang Betari Dhurga (Bhairawi)menjadi Uma Dewi.Pada saat itu juga Dewi Uma memberikan anugrah kepada Nakula-Sahadewa.Akhirnya bencana di negeri Pendawa menjadi hilang normal kembali.   

Selasa, 09 Agustus 2011

BETARA ARYA KENCENG DI BALI


Dengan wafatnya ibu suri Rajapatni/Gayatri(istri Raden Wijaya,ibu Tribhuwana) maka Ratu Tribhuwana turun tahta dan menyerahkan mahkotaa kerajaan kepada putranya Hayam Wuruk (yang saat itu baru berusia 16 tahun).Dengan diangkatnya Hayam Wuruk sebagai raja Majapahit (1350-1389),maka keadaan di Bali juga mengalami perubahan.Atas usul Mangkubumi Majapahit yaitu Gajah Madam aka Sri dalem Ketut Kresna Kepakisan (putra keempat dari Mpu Kepakisan) diangkat menjadi Adipati di Bali dengan keratin di Samprangan yang kemudian melahirkan dinasti Dalem.Sedangkan Betara Arya Kenceng dinobatkan menjadi penguasa wilayah Tabanan dan memimpin para Arya lainnya yang juga menempati wilayah tertentu sesuai dengan perintah Adipati Sri Dalem kresna Ketut Kepakisan(1350-1380).Betara Arya Kenceng berkuasa di Tabanan dengan istananya di puri Buahan/Pucangan,Arya Sentong di Pacung,Arya Belog di Kaba-Kaba,Arya Kutawaringin di Gelgel.Sebagai kepercayaan adipati Bali,Arya Kenceng ditugaskan sebagai pucuk pimpinan para arya dan menjabat Menteri Utama,maka beliau sangat sering menghadap kekeraton Samprangan.Demikian pula dalam menumbuhkan kepercayaan masyarakat Bali dan mewujudkan ketentraman di bali,maka diupayakan melakukan perbaikan dan pembangunan serta pelaksanaan upacara besar di Pura Besakih dan Pura Kentel Gumi(puranya masyarakat seluruh Bali),dimanapara arya utamanya Arya kenceng dan Arya Sentong tidak kalah penting peranannya dalam pembangunan tersebut.Dari sana terlihat cukup jelas pengabdiaanya yang tulus iklasdan penuh tanggung jawab,sehingga beliau di segani dan dihormati oleh semua lapisan masyarakat.Karena itu Raja Adipati Bali memberikan wasiat utama kepada Arya Kenceng :
1.    Bilamana kelak meninggal dunia boleh menggunakan apa saja yang dipakai oleh Raja Adipati,kecuali tingkat upacara Naga Banda secara turun temurun,demikian pula hubungan persaudaraan agar tetep rukun dan saling mencintai.
2.    Dalam pemerintahan berhak mengatur tinggi rendahnya kedudukan derajat kebangsawanan dan menjatuhkan hukuman dan denda yang berat atau ringan dan adinda juga berhak mengatur seluruh para Arya sedangkan para Arya dilarang membantah Adinda.
Setelah wafat beliau,Betara Arya Kenceng ,tak terlukiskan betapa sedihnya rakyatnya.pada hari yang baik dilaksakan upacara pembakaran jenazahnya sesuai dengan anugrah Dalem,menggunakan usungan/Bade tingkat 11(sebelas).Adapun roh sucinya dibuatkan Tugu Penghormatan(Pedarman) disebut Batur.Dari perkawinan Ida Betara Arya Kenceng dengan seorang putri Brahmani Ketepeng Reges Majapahit,melahirkan dua orang putra yaitu Dewa Gede dengan gelar Shri Megadaprabu dan Dewa Rai dengan gelar Shri Megadanatha,yang juga bergelar Sirarya Ngurah Tabanan.Sedangkan yang lahir lain ibu adalah putra ketiga bernama Kyai Tegeh atau Kyai Tegeh Kori dan adiknya yang bungsu bernama Istri Tegeh,mungkin ibunya berasal dari Desa Tegeh di Penebel.Karena Shri Megadaprabu lebih memilih menjadi seorang pertapa maka kedudukan ayah beliau digantikan adiknya Megadanatha.a   dapun adiknya Kyai Tegeh Kori ditugaskan menempati wilayah Badung yang berpusat di Tegal/Bandanagara,disebelah selatan kuburan Badung sekarang.(1378),atas permintaan Ki Bendesa Manik Mas Badung kepada Betara Arya Kenceng,karena daerah Badung tiada pemimpin setelah ditinggal pergi oleh Kyai Anglurah Penatih Rsi.Sebelumnya wilayah Kertalangu(Kesiman sekarang) dipimpin oleh Kyai Anglurah Penatih Rsi,akan tetapi karena  suatu peristiwa menyebabkan keluarga Puri Kertalangu tercerai berai bahkan ada yang menetap di Puri Sulang Klungkung.Pada awalnya Ki Dukuh Pahang atau Dukuh Sakti mohon pamit  kepada Kyai Anglurah Penatih Rsi(menantu),akan pulang ke sorgaloka dengan jalan Moksah.Akan tetapi beliau tidak percaya akan hal tersebut,bahkan memerintahkan kepada pejabat puri dan rakyatnya agar memukuli Ki Dukuh bilamana tidak bisa moksah.Kenyataanya semua berjalan dengan sempurna dan Ki Dukuh sempat memberikan kutukan sebagai berikut :”Inggih Kyai Anglurah Penatih,retuning maring Kertalangu,Jhah tasmat Kyai Anglurah Penatih kerusak antuk semut”selang 42 haridari moksahnya Ki Dukuh,kemanapun Kyai Anglurah Penatih pergi dicari terus oleh pasukan semut yang luar biasa banyaknya,sampai akhirnya terselamatkan di Desa Sulang Klungkung.Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Kyai Anglurah Penatih Rsi di Kertalangu dan digantikan oleh Kyai Tegeh di Tegeh Kori/Badanagara.     

Arya Damar

Arya Damar di Bali
Setelah ekspedisi militer ke tanah sumatera berhasil dengan baik maka pada tahun1343M dilaksakan ekspedisi ke Bali yang dipimpin oleh panglima perang Sang Arya Damar dan Gajah Mada bersama para arya lainya,karena pertahanan raja Bali dinilai cukup tangguh maka perlu mengatur strategi perang dengan sasaran sebagai berikut :
1.      Sang Arya Damar memimpin pendaratan dipantai Bali Utara,dibantu oleh Arya Sentong dan Arya Kutawaringin.
2.      Gajah Mada memimpin pendaratan dipantai Timur Gunung Agung.
3.      Pendaratan dipantai Bali Selatan dipimpin oleh perwira yang masih ada hubungan keluarga dengan Arya Damar,masing-masing bernama Arya Kenceng,Arya Belog,Arya Pengalasan dan Arya Kanuruhan.
4.      Sedangkan dari bali Barat dipimpin oleh Adipati Takung yang disebut juga Orang Agung dengan kesatuan tentara dari Sunda yang berjumlah 2000 orang.                                           
Demikianlah terjadi pertempuran yang sangat dahsyat sampai memerlukan waktu yang cukup panjang lebih kurang tujuh bulan,dimana pertahanan Bali dipimpin Patih Pasung Grigis yang dibantu oleh :
1.      Giri Kmana berkedudukan di Denbukit (Bali Utara)
2.      Tunjung Tutur berkedudukan di Tianyar (Bali Timur)
3.      Ki Buwahan berkedudukan di Desa Batur.
4.      Ki Tambiak berkedudukan di Jimbaran (Bali Selatan)
5.      Ki Kopang berkedudukan di Desa Seraya (Bali Timur)
6.      Ki Watusingkal berkedudukan di Desa Taro
 Setelah Bali dapat ditundukan dan tidak lama kemudian Sang Arya Damar dapat panggilan untuk kembali ke Majapahit dan selanjutnya ditugaskan ke Palembang.Dari Palembang beliau melanjutkan perjalanan dan mengembangkan kekuasaanya menjadi kerajaan Malayapura/Darmaseraya dengan pusatnya di Pagaruyung dan mendapat gelar Maharajadiraja pada tahun 1350 M.beliau wafat pada tahun 1376 M dalam usia 83 tahun di Pagaruyung dan dimakamkan di Kubu Rajo Limo Kaum kabupaten Tanah Datar,Sumatera Barat.Dari prasasti batu nisan yang bersurat huruf Pallawa dan Melayu Kuno dan dapat dibaca dan disimpulkan bunyinya sebagai berikut : DISINI BERBARING SEORANG ANAK RAJA  ADVAYAWARMAN bernama ADITYAWARMAN. 
              Sepeninggal Sang Arya Damar dari Bali beliau meninggalkan tiga orang putra : Arya Kenceng di Tabanan,Arya Belog di Kaba-Kaba dan Arya Delancang di Kapal.Diceritakan Arya Kenceng dengan putri seorang Brahmana dari Ketepeng Reges,sementara putri yang ketiga menikah dengan Arya Sentong dan putri yang sulung menikah dengan Sang Adipati Sri Dalem Ketut Kresna Kepakisan.