Topeng Dalem Sidakarya

di pentaskan dalam upacara keagamaan di Bali

Barong

Barong adalah Simbol Kebaikan

Rangda

Simbol dari kekuatan Betari Durga atau Hyang Durga Bairawi

Barong Landung

Simbol Dalem balingkang dan Dewi Kang Cing Wei

Barong dan Rangda

simbol penjaga Kekuatan Bali

Selasa, 19 April 2016

Kisah Legenda Calonarang

Petilasan calonarang yang hidup saat zaman Raja Airlangga masih bisa ditemui hingga saat ini. 
Calonarang ini diceritakan sebagai sebagai seorang rondo (janda) yang menguasai ilmu hitam dan penganut aliran durga yang sakti dan jahat. 
Ia dijuluki “Rondo Naten Girah” (janda yang tinggal di Girah). 
Karena sangat jahat, warga menamainya Calonarang. 
Ia juga mempunyai banyak murid, yang semuanya adalah perempuan.
Kemarahan Calonarang menyebebkan grubug (wabah) di kerajaan Airlangga. 
Diceritakan rakyat Kerajaan Kediri disiang harinya yang ramai seperti biasanya. 
Tidak ada terasa hal-hal aneh atau pertanda aneh di siang hari tersebut. 
Kegiatan masyarakat berlangsung dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam hari. 
Pada malam hari masyarakat yang senang matembang atau bernyanyi melakukan kegiatannya sampai malam. 
Demikian pula dengan seka gong latihan sampai malam di Balai Banjar. 
Suasananya nyaman, tentram, dan damai sangat terasa ketika itu.
Setelah tengah malam tiba, semua masyarakat telah beristirahat tidur. 
Suasananya menjadi gelap dan sunyi senyap, ditambah lagi pada  hari tersebut adalah hari Kajeng Kliwon. 
Suatu hari yang dianggap kramat bagi masyarakat. 
Masyarakat biasanya pantang pergi sampai larut malam pada hari Kajeng Kliwon. 
Karena hari tersebut dianggap sebagai hari yang angker. 
Sehingga penduduk tidak ada yang berani keluar sampai larut malam.
Ketika penduduk rakyat Kediri tertidur lelap di tengah malam, ketika itulah para murid atau sisya Ibu Calonarang yang sudah menjadi leak datang ke Desa-desa wilayah pesisir Kerajan Kediri. 
Sinar beraneka warna bertebaran di angkasa. Desa-desa pesisir bagaikan dibakar dari angkasa. Ketika itu, penduduk desa sedang tidur lelap. 
Kemudian dengan kedatangan pasukan leak tersebut, tiba- tiba saja penduduk desa merasakan udara menjadi panas yang membuat tidur mereka menjadi gelisah. 
Para anak-anak yang gelisah, dan terdengar tangis para bayi di tengah malam. 
Lolongan anjing saling bersahutan seketika. 
Demikian pula suara goak atau burung gagak terdengar di tengah malam. 
Ketika itu sudah terasa ada yang aneh dan ganjil saat itu. 
Ditambah lagi dengan adanya bunyi kodok darat yang ramai, padahal ketika itu adalah musim kering. 
Demikian pula tokek pun ribut saling bersahutan seakan-akan memberitahukan sesuatu kepada penduduk desa. 
Mendengar dan mengalami suatu yang ganjil tersebut, masyarakat menjadi ketakutan, dan tidak ada yang berani keluar.
Endih atau api jadi-jadian yang berjumlah banyak di angkasa kemudian turun menuju jalan-jalan dan rumah-rumah penduduk desa. 
Api sebesar sangkar ayam mendarat di perempatan jalan desa, dan diikuti oleh api kecil-kecil warna-warni. 
Setelah itu para leakyang tadinya terbang berwujud endih, kemudian setelah dibawah berubah wujud menjadi leak beraneka rupa, dan berkeliaran di jalan jalan desa.
Para leak di malam itu telah menyebarkan penyakit grubug di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri. 
Setelah beberapa hari mengalami kepanikan, kebingungan danketakutan, akhirnya para prajuru desa atau pengurus desa, para pengelingsir atau tetua dan para pemangku mengadakan pertemuan di salah satu balai banjar di desa Girah. 
Pada intinya mereka membicarakan mangenai masalah atay penyakit gerubug yang menyerang desa-desa pesisir Kerajan Kediri. 
Raja Kediri setelah mengetahui kejadian ini menjadi sangat murka.
Diceritakan Ki Patih Madri sebagai utusan raja telah mengumpulkan tokoh masyarakat dan penduduk yang mempunyai ilmu kanuragan atau ilmu kewisesan. 
Mereka semua dikumpulkan di Istana dan diberikan pengarahan mengenai rencana penyerangan ke tempat Ratu Leak di Desa Girah menggempur Calonarang di malam hari.
Karena kesaktian Calonarang maka serangan dari pihak Kediri yang dipimpin Ki Patih Madri telah diketahui sebelumnya. 
Sehingga Calonarang dengan mudah mengalahkannya. 
Dengan kalahnya Patih Madri melawan Nyi Larung murid Calonarang, maka Raja Kediri sangat panic sehingga Raja Kediri memanggil seorang Bagawanta (Rohaniawan Kerjaan) yaitu Pendeta Kerajaan Kediri yang bernama Empu Bharadah yang situgaskan oleh Raja untuk mengatasi gerubug sebagai ulah onar si Ratu Leak Calonarang.
Empu Bharadah lalu mengatur siasat dengan cara Empu Bahula putra Empu Bharadahdi tugaskan untuk mengawini Diah Ratna Mengali agar berhasil mencuri rahasia ilmu pengeleakan milik janda sakti itu.
Empu Bahula berhasil mencuri buku lontar yang bertuliskan aksara Bali yang menguraikan tentang teknik-teknik pengeleakan. 
Setelah Ibu Calonarang mengetahui bahwa dirinya telah diperdaya oleh Empu Bharadah dengan memenfaatkan putranya Empu Bahula untuk pura-pura kawin dengan putrinya sehingga berhasil mencuri buku ilmu pengeleakan milik Calonarang.
Ibu Calonarang sangat marah dan menantang Empu Bharadah untuk perang tanding pada malam hari di Setra Ganda Mayu yaitu sebuah kuburan yang sangat luas yang ada diKerajan Kediri. 
Pertarungan pun terjadi dengan sangat seram dan dahsyat antara penguasa ilmu hitam yaitu Calonarang dibantu para sisya atau murid-murid dengan penguasa ilmu putih yaitu Empu Bharadah dibantu pasukan Balayuda Kediri, di Setra Ganda Mayu.
Pertempuran berlangsung sangat lama sehingga sampai pagi, dan karena ilmu hitam  mempunyai kekuatan hanya pada malam hari saja, maka setelah siang hari Ibu Calonarang akhirnya tidak kuat melawan Empu Bharadah. 
Calonarang terdesak dan sisyanya banyak yang tewas dalam pertempuran melawan Empu Bharadah dan Pasukan Balayuda Kediri. 
Calonarang tewas ketika ia berubah wujud menjadi garuda (Baca: Kisah Leak Garuda Anglayang) dan terkena bidikan senjata pusaka Jaga Satru oleh Empu Bharadah. Segera si garuda mengambil wujud kembali menjadi manusia sosok Calonarang. 
Ratu Leak Calonarang yang sakti mandra guna tidak berdaya dengan kesaktian senjata pusaka Jaga Satru Empu Bharadah. Dengan meninggalnya Ibu Calonarang maka bencana gerubug (wabah) yang melanda Kerajaan Kediri bisa teratasi.


Dari berbagai sumber (diantaranya baliaga)

Leak - Ilmu Spiritual Tingkat Tinggi Warisan Leluhur Bali

. Kata leak sudah mendarah daging di benak masyarakat hindu di Bali atau asal Bali yang tinggal di perantauan sebab kata-kata ini sangat sering kita dengar dan membuat bulu kuduk merinding atau hanya sekedar ga berani keluar malam gara-gara kata “leak" ini.
Begitu juga keributan sering terjadi antar tetangga gara-gara seorang nenek di sebelah rumah di tuduh bisa ngeleak. Bahkan bayi menangis tengah malam, yang mungkin kedinginan atau perut kembung yang tidak di ketahui oleh ibunya, juga tuduhannya pasti “amah leak” apalagi kalau yang bilang balian sakti (paranormal).
Asumsi kita tentang leak paling-paling rambut putih dan panjang, gigi bertaring, mata melotot, dan identik dengan wajah seram. Hal inilah yang membuat kita semakin tajam mengkritik leak dengan segala sumpah serapah, atau hanya sekedar berpaling muka bila ketemu dengan orang yang bisa ngeleak.
Secara umum leak itu tidak menyakiti, leak itu proses ilmu yang cukup bagus bagi yang berminat. Karena ilmu leak juga mempunyai etika-etika tersendiri. Yang menyakiti itu ilmu teluh atau nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, ilmu inilah yang disebut pengiwa. Ilmu pengiwa inilah yang banyak berkembang di kalangan masyarakat seringkali dicap sebagai ilmu leak.
Tidak gampang mempelajari ilmu leak. Dibutuhkan kemampuan yang prima untuk mempelajari ilmu leak. Dulu ilmu leak tidak sembarangan orang mempelajari, karena ilmu leak merupakan ilmu yang cukup rahasia sebagai pertahanan serangan dari musuh. Orang Bali Kuno yang mempelajari ilmu ini adalah para petinggi-petinggi raja disertai dengan bawahannya. Tujuannya untuk sebagai ilmu pertahanan dari musuh terutama serangan dari luar. Orang-orang yang mempelajari ilmu ini memilih tempat yang cukup rahasia, karena ilmu leak ini memang rahasia. Jadi tidak sembarangan orang yang mempelajari. Namun zaman telah berubah otomatis ilmu ini juga mengalami perubahan sesuai dengan zamannya. Namun esensinya sama dalam penerapan.
Pada dasarnya ilmu leak adalah “ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci”.
Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut dengan leak, yang ada adalah “Lia Ak yang berarti lima aksara (memasukkan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu). Kekuatan aksara ini disebut “Panca Gni Aksara”, siapapun manusia yang mempelajari kerohanian merek apapun apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura).
Cahaya ini bisa keluar melalui lima pintu indra tubuh; telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan. Pada umumya cahaya itu keluar lewat mata dan mulut, sehingga apabila kita melihat orang ngelekas di kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar rambut orang tersebut.
Orang yang kebetulan melihatnya tidak perlu waswas. Bersikap sewajarnya saja. Kalau takut melihat, ucapkanlah nama nama Tuhan. Endih ini tidak menyebabkan panas. Dan endih tidak bisa dipakai untuk memasak karena sifatnya beda. Endih leak bersifat niskala, tidak bisa dijamah.
Pada prinsipnya ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang, yang di pelajari adalah bagaimana dia mendapatkan sensasi ketika bermeditasi dalam perenungan aksara tersebut. Ketika sensasi itu datang, maka orang itu bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui “ngelekas” atau ngerogo sukmo.
kata “Ngelekas” artinya kontraksi batin agar badan astral kita bisa keluar, ini pula alasannya orang ngeleak apabila sedang mempersiapkan puja batinnya di sebut “angeregep pengelekasan”.
Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum disebut “ndihan” bola cahaya melesat dengan cepat. Ndihan adalah bagian dari badan astral manusia yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu dan pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain.
dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya,
tidak sembarangan berani/boleh keluar dari tubuh kasar kalau tidak ada kepentingan mendesak, sehingga tidak semua orang bisa melihat ndihan.
tidak boleh masuk atau dekat dengan orang mati, orang ngeleak hanya main2 di kuburan (pemuhunan) apabila ada mayat baru, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar rohnya mendapat tempat yang baik sesuai karmanya, begini bunyi doanya leak memberikan berkat, "ong, gni brahma anglebur panca maha butha, anglukat sarining merta, mulihankene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahutama, ong rang sah, prete namah.." sambil membawa kelapa gading untuk dipercikkan sebagai tirta.
Ditinjau dari sumber ilmunya ada 2 jenis ilmu leak:
Leak Panugerahan adalah kemampuan spiritual yang diberikan oleh Tuhan sebagai gift (hadiah lahir) karena yang bersangkutan memiliki karma yang sangat baik dalam kehidupan sebelumnya. Orang yg menguasai Leak Panganugerahan mampu menghidupkan sinar Tuhan dlm tubuhnya yg diistilahkan dgn “api” dan mampu memadamkannya dgn unsur2 cair yg ada dlm tubuhnya juga. Biasanya unsur2 cair ini akan keluar dalam bentuk ludah/air liur/dahak. Dia juga mampu menyatukan unsur bhuana alit (tubuh manusia) dgn bhuana agung (alam semesta). Dgn demikian ybs mampu menguasai semua makhluk2 halus (jin, setan,dll) yg ada di dalam tubuh manusia dan di alam semesta dalam genggamannya. dan sekali yang menerima anugrah tersebut melanggar aturan atau berbuat diluar kebajikan, maka semua ilmunya akan sirna dan hidupnya pasti menderita. Sehingga apapun yang akan dilakukannya berkaitan dengan ilmu leak, selalu minta ijin terlebih dahulu dari Sesuhunannya atau paling tidak mengadakan pemberitahuan (matur piuning).
Leak Papalajahan adalah kemampuan yg didapat dgn cara belajar baik dengan meditasi, tapa semadhi atau yoga atau belajar dari guru. orang yg menguasai Leak Papalajahan hanya mampu menghidupkan api saja tanpa mampu memadamkannya. Dia juga tdk mampu menguasai makhluk2 halus yg ada di alam semesta dalam dirinya, tapi bisa memerintahkan mereka dgn jalan memberikan seperangkat sesajen tertentu utk menyenangkan makhluk2 halus, karena sesajen2 ini adalah makanan buat mereka.
Dalam sebuah tayangan episode televisi ada seorang praktisi leak yang mencoba menghapus kesan buruk ilmu leak dengan menayangkan prosesi nglekas. Dinyatakan di sana bahwa kru televisi dari luar Bali pada ketakutan dan menjauh dari sang praktisi karena melihat perubahan wujud menjadi sangat menyeramkan. Padahal dari rekaman video perubahan wujud itu tidak tampak sama sekali. Hanya dari beberapa bagian tubuh sang praktisi mengeluarkan cahaya terang, terutama mulut dan ubun-ubun, sedangkan dari telapak tangan keluar asap putih. Itu bedanya mata manusia yang memiliki sukma dan mata teknologi (kamera).
Jadi kesimpulannya adalah
leak tidak perlu di takuti, tidak ada leak yang menyakiti,
takutlah terhadap pikiran picik, dengki, sombong, pada diri kita sebab itu sumber pengiwa dalam tubuh kita. Bila tidak diantisipasi tekanan darah jadi naik, dan penyakit tiga S akan kita dapat, Stres, Stroke, Setra.
Pada hakekatnya tidak ada ilmu putih dan hitam semua itu hati yang bicara
Sama halnya seperti hipnotis, bagi psikiater ilmu ini untuk penyembuhan, tapi bagi penjahat ilmu ini untuk mengelabui serta menipu seseorang, tinggal kebijaksanaan kita yang berperan.
Pintar, sakti, penting namun..ada yang lebih penting adalah kebijaksanaan akan membawa kita berpikir luas, dari pada mengumpat serta takut pada leak yang belum tentu kita ketemu tiap hari.
Ilmu Kewisesan Pengiwa Leak Desti
Kata Pengiwa berasal dari bahasa jawa kuno; yang asal katanya kiwa dalm bahasa Jawa Kuno yang artinya kiri; kiwan; sebelah kiri, Ngiwa = Nyalanang aji wegig (menjalankan aliran kiri), seperti ; pengeleakan penestian, Menggal Ngiwa = nyemak (melaksanakan) gegaen dadua (pekerjaan kiri dan kanan).
Pengertian Kiwa dan Tengen artinya ilmu hitam dan ilmu putih, Ilmu Hitam disebut juga ilmu pengeleakan, tergolong aji wegig. Aji berarti ilmu, Wegig berarti begig yaitu suatu sifat yang suka mengganggu orang lain. Karena sifatnya negatif, maka ilmu itu sering disebut “ngiwa”. Ngiwa berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri.
Aji Penengen (Ilmu putih) sangat bertentangan dengan ilmu hitam. Ilmu putih sebagai lawannya, yang disebut pula ilmu penangkal leak yang bisa dipakai untuk memyembuhkan orang sakit karena diganggu leak, sebab aji usadha berhaluan kanan, disebut haluan “tengen” berarti kanan. Ilmu putih ini mengandung ilmu “kediatmika”.
Leak Desti yang merupakan bagian dari Ilmu Pengiwa dari jaman dulu kala sudah menjadi fenomena yang tak pernah sirna dimakan jaman, keberadaannya dari dulu menjadi momok yang menakutkan masyarakat. Leak Desti adalah perwujudan ilmu leak tingkat paling bawah yaitu perwujudannya bisa berbentuk binatang. adapun nama – nama yang sangat popular adalah:
Lelakut yaitu sejenis kadal yang besar berbadan hitam loreng-loreng, berkepala manusia berwajah seram dan hitam, rambutnya terurai, taringnya panjang, giginya runcing, matanya lebar dan menyala keluar api berwarna hijau, mempunyai ekor panjang warnannya loreng hitam putih.
Bebae yaitu sejenis binatang kambing berbulu putih mulus, mempunyai telinga panjang menjulur kebawah sampai menyentuh tanah.
Leak Desti ini sasarannya adalah orang-orang yang penakut sehingga kalau orang yang ketakutan ini melihat leak Desti maka ia akan lari terbirit-birit dan bisa terjatuh dan pada saat jatuh itulah maka Leak Desti ini akan menyerang dan akan mengisap darah orang yang terjatuh tadi.
Disamping orang yang ketakutan juga bisa disasar anak-anak kecil terutama bayi-bayi sehingga bayi-bayi itu bisa menangis terus-menerus dan tidak mau menyusu pada ibunya dan lama-lama sampai anak kecil tersebut jatuh sakit. Leak Desti ini di Bali ada penangkalnya yaitu melalui orang-orang Wiku yaitu orang yang sudah menguasai ilmu pengobatan yang disebut ilmu Usada Bali (pengobatan tradisional Bali).
“Ngereh” artinya proses perubahan wujud dari manusia menjadi Leak. Leak desti adalah wujud siluman jahat (setan). Desti adalah perwujudan binatang siluman manusia dalam bentuk binatang yang aneh dan seram.
Adapun Tehnik Ngereh Leak Desti tersebut adalah sebagai berikut : Dalam ajaran Agama Hindu mengenal tiga Kerangka Dasar yaitu:
Tatwa berarti orang yang menjalankan ilmu pengeleakan harus menyadari tentang ajarannya.
Etika berarti orang yang menjalankan ilmu pengeleakan pasti akan melaksanakan mengenai tehnik-tehnik tingkah lakunya.
Upakara berarti orang yang menjalankan ilmu pengeleakan sudah tentunya melaksanakan upakara-upakara seperti menghaturkan sesajen (banten dalam bahasa bali) sebagai sarana upakara.
Sebelum Ngereh (proses perubahan wujud) menjadi Leak Desti, orang yang menjalankan pengeleakan terlebih dahulu melaksanakan beberapa tahapan kegiatan dengan melakukan berbagai permohonan. Adapun tahapan-tahapan kegiatan ngereh tersebut adalah sebagai berikut :
Memasang pasirep yaitu mengeluarkan ilmu kesaktian agar semua mahluk hidup yang ada di sekitarnya semuannya tertidur lelap.
Mencari tempat ngereh yaitu mencari tempat yang paling strategis dan aman seperti misalnya di Kuburan, pada perempatan jalan, atau bisa di sawah yang penting tempat tersebut sepi.
Mempersiapkan upakara berupa sarana banten yang berkaitan dengan ilmu pengeleakan.
Melakukan permohonan-permohonan agar proses ngereh dapat berlangsung sesuai dengan yang diinginkan kepada Tuhan dalam segala bentuk menifestasinya yaitu :
Pertama mohon kepada yang bernama Butha Peteng (perwujudan unsur alam gelap) untuk memagari tempatnya agar siapa yang lewat supaya tidak melihat, dilanjutkan kemudian dengan memasang ilmu pengreres (ilmu penakut) agar yang lewat menjadi ketakutan.
Kedua mohon kepada yang bernama Butha Keridan (perwujudan unsur alam terbalik) agar pengelihatan orang bisa terbalik yaitu yang di atas bisa terlihat di bawah.
Ketiga secara berturut-turut mohon kepada yang bernama Sang Kala Jingkrak, Butha Lenga, Butha Ringkus, Butha Jengking dan terakhir mohon kepada yang bernama sang Butha Kapiragan, agar segala permohonannya bisa terkabul.
Sang Kala Jingkrak, Butha Lenga, Butha Ringkus, Butha Jengking dan Butha Kapiragan adalah nama-nama Butha Kala yang menguasai Ilmu Pengleakan.
Keempat setelah proses permohonan selesai, dilanjutkan dengan kegiatan muspa (sembahyang) dengan posisi badan terbalik yang dilanjutkan dengan nengkleng (berdiri dengan kaki satu) berjalan nengkleng mengitari "sanggah cucuk" (tempat menaruh sesajen yang terbuat dari batang bambu), sesuai dengan tingkat ilmunya dengan posisi putaran berjalan nengkleng kearah kiri.
Dengan melalui ngereh tersebut diatas maka orang yang menguasai ilmu pengeleakan bisa berubah wujud sesuai tingkat ilmu pengeleakan yang dikuasainya yaitu kalau tingkat Desti maka orang tersebut bisa berubah wujud menjadi binatang yang aneh-aneh dan seram
setelah menguasai Ilmu Pengiwa Leak Desti, penekun akan dengan mudah membuat sarana pengleakan yang biasa di gunakan oleh pengikut aliran kiri ini. Sarana tersebut seperti :
“Pengasren” (semacam pelet), yakni sarana magis agar orang yang bersangkutan menjadi kelihatan selalu cantik dan tampan, awet muda dan mempunyai daya pikat yang tinggi. Dengan sarana tersebut orang akan mudah dapat memikat lawan jenis yang dikehendakinya.
“Pengeger” (semacam penglaris) yang dapat menyebabkan si pemakai menjadi laris dalam berdagang atau berusaha, dengan harapan si pemakai menjadi semakin kaya.
“Pengasih-asih”, yakni sarana yang dapat membuat orang menjadi jatuh cinta kepada orang yang menggunakan sarana tersebut. Atau dapat pula disebut dengan sarana guna-guna. Seperti misalnya : guna lilit, guna jaran guyang, guna tuntung tangis, dan lain-lain macamnya.
“Penangkeb”, yakni sarana gaib atau mistis agar orang lain atau orang banyak menjadi tunduk. Dengan demikian orang tersebut dapat mengendalikan, mengarahkan, menguasai, atau menyetir orang lain atau orang banyak sesuai dengan keinginannya. Orang yang telah terkena ilmu penangkeb tak ubahnya seperti kerbau yang dicocok hidungnya, sehingga akan menjadi penurut sesuai perintah atau keinginan dari orang yang mengenakan ilmu penangkeb.
“Pepasangan”, yakni sarana yang ditanam pada tempat tertentu oleh orang yang bisa melakukan pengiwa. Tujuannya adalah untuk mengenai korbannya sesuai dengan yang diingini si pemasang. Dapat berupa sarana tulang manusia yang dibungkus, atau berupa bubuk tulang yang ditaburkan pada pekarangan rumah orang yang akan dijadikan korban. Dengan adanya pepasangan itu menjadikan situasi rumah tersebut menjadi agak lain, agak seram, penghuninya sakit-sakitan, sering cekcok, dan lain-lain.
“Sesawangan”, yakni kemampuan seseorang yang mempraktekkan ilmu pengiwa hanya dengan membayangkan wajah atau hanya nama dari calon korban. Sesawangan juga disebut dengan umik-umikan atau acep-acepan atau doa-doa. Dengan kemampuan ini seseorang yang melaksanakannya dapat mencapai korbannya, walaupun dia bersembunyi di balik dinding beton yang tebal dan kuat. Adanya ilmu ini makanya sering kita mendengar kalimat seperti berikut : “walaupun engkau berlindung di dalam gedong batu yang terkunci rapat, aku akan dapat mencapaimu”. Mungkin ilmu sesawanganlah yang digunakan orang tersebut.
“Ilmu Cetik” (racun) merupakan cara meracun orang atau korban. Ada cetik sekala dan ada cetik niskala. Cetik sekala diartikan bahwa meracun dengan menggunakan sarana tertentu yang tampak nyata, seperti cetik gringsing, cetik cadang galeng, cetik kerikan gangsa, dan lain-lain. Kemudian cetik niskala adalah meracun korban atau orang dengan sarana yang tidak kelihatan. Cetik ini hanya mampu dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu Leak yang sudah tinggi. Hanya dengan memandangi makanan atau minuman saja, maka korbannya akan menjadi sakit seperti yang dikehendaki. Jadi boleh dibilang cetik ini tanpa memerlukan sarana, karena tidak kelihatan.
Kewisesan yang diporolehnya kemudian disebarluaskan secara rahasia dengan menggunakan sarana seperti mas, mirah, tembaga, kertas merajah, dan lain-lain. Ada pula dalam bentuk bebuntilan (bungkusan kecil yang berisikan sarana tertentu). Si pemakai pengiwa tersebut juga diberikan rerajahan ongkara sungsang (ongkara terbalik) pada lidah, gigi, kuku, atau bagian tubuh tertentu lainnya. Atau ada pula penggunaan pengiwa dengan jalan maled (menelan sarana yang diberikan oleh gurunya). Sarana pengiwa tersebut dibakar sebelumnya, kemudian abunya dibungkus dengan buah pisang mas, dan kemudian ditelan. Setelah itu didorong masuk ke dalam tubuh dengan menggunakan tirta atau air suci.
Dalam kemajuan teknologi yang berkembang pesat saat ini ternyata di masyarakat masih mejadi trend penggunaan alat-alat kekebalan dalam berbagai bentuk baik yang dipakai maupun yang masuk dalam tubuhnya.
Adapun fungsi dari alat tersebut untuk menambah kepercayaan diri agar merasa lebih mampu dibandingkan dengan yang lainnya. Harus disadari fungsi dari alat ini bagaikan pisau bermata dua. Kalau tujuanya untuk kepentingan umum dalam hal menolong masyarakat tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah jika alat itu digunakan untuk pamer dan menguji orang lain, ini yang sangat riskan. Karena setiap alat yang kita pakai memiliki kadar tersendiri, tergantung dari sang pembuatnya. Karena ini berhubungan dengan kekuatan niskala yang berupa panengen dan pengiwa. Atau dalam istilah lainnya mengandung kekuatan pancaksara maupun dasaksara. Tidak sembarang orang bisa membuat alat seperti ini apalagi memasangnya karena berhubungan dengan pengraksa jiwa. Kalau berupa sesabukan (tali pinggang) menggunakan bahan-bahan tersendiri, berupa biji-bijian seperti kuningan, timah, perak, bahan panca datu. Ditambah sarana yang lainnya sebagai persyaratannya. Untuk menghidupkan ini perlu mantra pasupati biar benda tersebut menjadi hidup. Disinilah kekuatan penengen dan pengiwa berjalan sebagai satu kesatuan yang menjadi kekuatan panca dhurga.
Kalau sabuk pengeleakan lagi berbeda, di sini kekuatan pengiwa murni dipakai, sehingga yang memakainya akan memasuki dunia lain, tanpa disadari ia akan berubah secara sikap. Dan kita diolah oleh alat itu tanpa disadari kita menjadi kehilangan kontrol. Ini yang sangat berbahaya, jika tidak segera ditolong ia akan terjerumus, disinilah kekuatan penengen akan berjalan sebagai penetralisir. Di sinilah perlunya kita pemahaman apa itu penengen dan pengiwa jangan sepengal-sepenggal.
Kalau yang memasukan dalam tubuh juga hampir sama prosesnya dengan yang memakai alat, yang menjadi perbedaan adalah kalau yang memakai alat berada di luar tubuh dan yang memasukan berada di dalam tubuh, inipun prosesnya tidak gampang perlu orang yang tahu untuk memasangnya, memang tubuh menjadi kebal tapi perlu proses. Tidak langsung jadi. Disinilah kejelian seorang senior terhadap yuniornya apakah sudah siap secara mental atau tidak. Kalau sudah siap secara mental maka akan cepat benda itu bereaksi dan bisa dikontrol oleh dirinya sendiri, jika tidak akan sebaliknya akan membahayakan dirinya sendiri. Karena alat-alat yang dipasang akan menjadi energi. Di sinilah muncul keegoissan kita jika sudah merasa hebat seolah-olah kita yang paling unggul di antara orang lain, padahal kita tahu ilmu seperti ini sangat banyak.
Pengendalian diri sangat penting untuk membawa hal yang positif bagi kita sendiri, jangan terjebak oleh keinginan sesaat. Tapi sebaiknya kita gunakan alat-alat itu untuk kepentingan yang lebih baik seperti untuk jaga diri.
Untuk mendapatkan ilmu tersebut, harus mengadakan upacara yang disebut madewasraya. Apabila ingin menggunakan pangiwa, supaya dapat sakti dan manjur, mujarab dan digjaya, terlebih dahulu harus menyucikan diri. Setelah itu tatkala malam diadakannya madewasraya dahulu di kayangan pangulun setra (pura yang ada di dekat kuburan), memohon anugrah kehadapan Hyang Nini Betari Bagawati atau Ida Betari Durga Dewi. Adapun sarananya:
1. Daksina 1 buah
2. Uang kepeng sebanyak 17.000
3. Ketupat 2 kelan (1 kelan = 6 biji)
4. Arak & brem
5. Ketan hitam
6. Canang 11 biji
7. Canang tubungan, burat wangi lenga wangi, nyanyah (goreng tanpa minyak) gagringsingan, geti-getih (darah), dan biu mas (pisang kecil yang biasanya dipakai untuk membuat canang)
kemudian dipersembahkan secara niskala. Setelah itu bersila di depan paryangan, bersemadi dan tidak lupa dengan dupa menyan astanggi, heningkan batin. Kemudian ucapkan mantra:
“Om Ra Nini Batari Bagawati, turun ka Bali; ana wang mangkana; aminta kasih ring Paduka Batari, sira nunas turun ka mrecapada. Ana wang mangkana anunas kasaktian, manusa kabeh ring Bagawati, Sang Hyang Guru turun ka mrecapada. Ana wang manusa angawe Batara kabeh, turun ka Bali Sang Hyang Bagawati. Ana buta wilis, buta abang, ana buta jenar, ana buta ireng, ana buta amanca warna, mawak I Kalika, ya kautus antuk Batari Bagawati, teka welas asih ring awak sarinankune, pakulun Paduka Bagawati. Om Mam Am Om Mam, ana Paduka Batara Guru, teka welas asih, Bagawati manggih ring gedong kunci manik, teka welas asih ring awak sarinanku”.
Apabila sudah berhasil mendapatkan ilmu gaib tersebut, maka ada aturan yang harus dipatuhi. Orang yang memiliki ilmu gaib tersebut akan digjaya tidak terkalahkan, tidak bisa diungguli, dan semua akan tunduk kepadanya. Apabila mampu merahasiakannya, maka dalam 100 kali kelahiran akan menemui kebahagiaan dan kebebasan tertinggi. Dan bila meninggal dapat kembali ke sorga Brahmaloka, Wisnuloka, dan Iswaraloka. Tetapi bila ketahuan, apalagi sampai suka membicarakan, menyebarluaskan, dan tidak mampu merahasiakannya, maka dalam 1000 kali kelahiran akan menemui hina, neraka, disoroti oleh masyarakat, dan sudah pasti terbenam dalam kawah neraka Si Tambra Goh Muka.
Proses Belajar Nge-Leak
Pada dasarnya ilmu ini sangat rumit dan rahasia sekali, jarang seorang guru mau dengan terang-terangan memberikan ilmu ini dengan cuma-cuma.
Sebelum seorang belajar ilmu leak terlebih dahulu harus diketahui otonan orang tersebut (hari lahir versi Bali) hal ini sangat penting, karena kwalitas dari ilmu yang dianut bisa di ketahui dari otonanya, sang guru harus hati-hati memberikan pelajaran ini kalau tidak murid akan celaka oleh ilmu tersebut. Setelah diketahui barulah proses belajar di mulai, pertama-tama murid harus mewinten Brahma widya, dalam bahasa lontar “Ngerangsukan Kawisesan”, dan hari baik pun tentunya dipilih oleh sang guru.
Tahap dasar murid diperkenalkan dengan Aksara Wayah atau Modre. Selajutnya murid di “Rajah” (ditulis secara spiritual) seluruh tubuh oleh sang guru, hal ini di lakukan di Kuburan pada saat kajeng kliwon nyitan.
Selesai dari proses ini barulah sang murid sah diajarkan oleh sang guru, ada 5 sumpah yang dilakukan di kuburan :
hormat dan taat dengan ajaran yang di berikan oleh guru
Selalu melakukan ajapa-ajapa dan menyembah SIWA Dan DURGA dalam bentuk ilmu kawisesan,
tidak boleh pamer kalau tidak kepepet, selalu menjalankan darma,
tidak boleh makan daging kaki empat, tidak boleh bersetubuh ( zina)
tidak boleh menyakiti atau dengan carapapun melalui ilmu yang kita pelajari.
Di Bali yang namanya Rangda selalu indentik dengan wajah seram, tapi di jawa di sebut Rondo berarti janda, inilah alasanya kenapa dahulu para janda lebih menguasai ilmu pengeleakan ini dari pada laki-laki, dikarenakan wanita lebih kuat nahan nafsu... Pada dasarnya kalau boleh saya katakan ilmu ini berasal dari tanah Jawa, campuran aliran Siwa dan Budha, yang di sebut dengan “Bajrayana”.
adapun tingkat pelajarannya adalah:
Tingkat satu kita diajari bagaimana mengendalikan pernafasan, di bali dan bahasa lontar di sebut “Mekek Angkihan” atau Pranayama.
Tingkat dua kita diajarkan Visualisasi, dalam ajaran ini disebut "Ninggalin Sang Hyang Menget"
Tingkat tiga kita diajar bagaimana kita melindungi diri dengan tingkah laku yang halus serta tanpa emosi dan dendam, di ajaran ini di sebut "Pengraksa Jiwa”.
Tingkat empat kita di ajar kombinasi antara gerak pikiran dengan gerak tubuh, dalam bahasa yoga disebut Mudra. mudra ini berupa tarian jiwa akhirnya orang yang melihat atau yang nonton di bilang "Nengkleng” (berdiri dengan kaki satu). Mudra yang kita pelajari persis seperti tarian siwa nata raja. Tingkat empat barulah kita diajar Meditasi, dalam ajaran pengeleakan disebut "Ngeregep”, yaitu duduk bersila tangan disilangkan di depan dada sambil mengatur pernafasan sehingga pikiran kita tenang atau “Ngereh” dan “Ngelekas”.
Tingakat lima kita di ajarkan bagaimana melepas roh ( Mulih Sang Hyang Atma ring Bayu, Sabda lan Idep) melalui kekluatan pikiran dan batin dalam bahasa sekarang disebut Levitasi, berada di luar badan. Pada saat levitasi kita memang melihat badan kita terbujur kaku tanpa daya namun kesadaran kita sudah pindah ke badan halus, dan di sinilah orang disebut berhasil dalam ilmu leak tersebut, namun..ini cukup berbahaya kalau tidak waspada dan kuat iman serta mental kita akan keliru, bahkan kita bisa tersesat di alam gaib. Makanya kalau sampai tersesat dan lama bisa mati, ini disebut “mati suri”, maka Bhagawadgita benar sekali, (apapun yang kamu ingat pada saat kematian ke sanalah kamu sampai... dan apapun yang kamu pikirkan begitulah jadinya)
Tentu dalam pelajaran2 ini sudah pasti dibutuhkan ketekunan, puasa, berbuat baik, sebab ilmu ini tidak akan berhasil bilamana dalam pikiran menyimpan perasaan dendam, apalagi kita belajar ilmu ini untuk tujuan tidak baik saya yakin tidak akan mencapai tujuannya.
Kendati demikian godaan selalu akan datang seperti, nafsu sek meningkat, ini alasanya kenapa tidak boleh makan daging kaki empat, dan kita diajurkan tidur di atas jam 12 malam agar konisi agak lemah sehingga nafsu seks berkurang. Dan tengah malam tepat jam 12 kita diwajibkan untuk meditasi sambil mencoba melepas roh
dalam dunia leak sama seperti perkumpulan spiritual, pada hari-hari tertentu pada umumnya KAJENG KLIWON, kaum leak mengadakan “puja bakti” bersama memuja SIWA, DURGA, BERAWI, biasanya di pura dalem atau di Kuburan (pura Prajapti) dalam bentuk NDIHAN, bukan kera, anjing, dan lain-lain.
Jadi demikian semeton yang bisa saya sampaikan, mudah mudahan tulisan ini menambah wawasan di bidang ilmu leak sehingga besok-besok kita tidak ikut-ikutanan mengatakan LEAK itu jahat
YA SAKTI SANG SAJANA DARMA RAKSAKA, orang yang bijaksana pasti berpegang teguh pada dharma, dan orang yang berpegang darma sudah pasti bijaksana.
Tingkatan ilmu Leak di Bali
Ilmu leak ini bisa dipelajari dari lontar-lontar yang memuat serangkaian ilmu pengeleakan, antara lain; “Cabraberag, Sampian Emas, Tangting Mas, Jung Biru”. Lontar - lontar tersebut ditulis pada zaman Erlangga, yaitu pada masa Calonarang masih hidup.
Pada Jaman Raja Udayana yang berkuasa di Bali pada abab ke 16, saat I Gede Basur masih hidup yaitu pernah menulis buku lontar Pengeleakan dua buah yaitu “Lontar Durga Bhairawi” dan “Lontar Ratuning Kawisesan”. Lontar ini memuat tentang tehnik-tehnik Ngereh Leak Desti.
Selain itu lontar yang bisa dipakai refrensi diantaranya; “Lontar Tantra Bhairawa, Kanda Pat dan Siwa Tantra”.
Leak mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang dipelajari. Ada tujuh tingkatan leak.
Leak barak (brahma). Leak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api.
Leak bulan,
leak pemamoran,
Leak bunga,
leak sari,
leak cemeng rangdu,
leak siwa klakah.
Leak siwa klakah inilah yang tertinggi. Sebab dari ketujuh cakranya mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya.
Di samping itu, ada tingkatan yang mungkin digolongkan tingkat tinggi seperti :
Calon Arang
Pengiwa Mpu Beradah
Surya Gading
Brahma Kaya
I Wangkas Candi api
Garuda Mas
Ratna Pajajaran
I Sewer Mas
Baligodawa
Surya Mas
Sanghyang Aji Rimrim.
dalam gegelaran Sanghyang Aji Rimrim, memang dikatakan segala Leak kabeh anembah maring Sang Hyang Aji Rimrim, Aji Rimrim juga berbentuk Rerajahan. Bila dirajah pada kayu Sentigi dapat dipakai penjaga (pengijeng) pekarangan dan rumah, palanya sarwa bhuta-bhuti muang sarwa Leak kabeh jerih.
Disamping itu, ada sumber yang mengatakan ilmu leak mempunyai tingkatan. Tingkatan leak paling tinggi menjadi bade (menara pengusung jenasah), di bawahnya menjadi garuda, dan lebih bawah lagi binatang-binatang lain, seperti monyet, anjing ayam putih, kambing, babi betina dan lain-lain. selain itu juga dikenal nama I Pudak Setegal (yang terkenal cantik dan bau harumnya), I Garuda Bulu Emas, I Jaka Punggul dan I Pitik Bengil (anak ayam yang dalam keadaan basah kuyup).
Dari sekian macam ilmu Pengleakan, ada beberapa yang sering disebut seperti
Bajra Kalika yang mempunyai sisya sebanyak seratus orang,
Aras Ijomaya yang mempunyai prasanak atau anak buah sebanyak seribu enam ratus orang. Di antaranya adalah I Geruda Putih, I Geringsing, I Bintang Sumambang, I Suda Mala, Pudak Setegal, Belegod Dawa, Jaka Tua, I Pering, Ratna Pajajaran, Sampaian Emas, Kebo Komala, I Misawedana, Weksirsa, I Capur Tala, I Anggrek, I Kebo Wangsul, dan I Cambra Berag. Disebutkan pula bahwa ada sekurang-kurangnya empat ilmu bebai yakni I Jayasatru, I Ingo, Nyoman Numit, dan Ketut Belog. Masing-masing bebai mempunyai teman sebanyak 27 orang. Jadi secara keseluruhan apabila dihitung maka akan ada sebanyak 108 macam bebai.
Di lain pihak ada pula disebutkan bermacam-macam ilmu pengLeakan seperti :
Aji Calon Arang, Ageni Worocana, Brahma Maya Murti, Cambra Berag, Desti Angker, Kereb Akasa, Geni Sabuana, Gringsing Wayang, I Tumpang Wredha, Maduri Geges, Pudak Setegal, Pengiwa Swanda, Pangenduh, Pasinglar, Pengembak Jalan, Pemungkah Pertiwi, Penyusup Bayu, Pasupati Rencanam, Rambut Sepetik, Rudra Murti , Ratna Geni Sudamala, Ratu Sumedang, Siwa Wijaya, Surya Tiga Murti, Surya Sumedang, Weda Sulambang Geni, keputusan Rejuna, Keputusan Ibangkung buang, Keputusan tungtung tangis, keputusan Kreta Kunda wijaya, Keputusan Sanghyang Dharma, Sang Hyang Sumedang, Sang Hyang Surya Siwa, Sang Hyang Geni Sara, Sang Hyang Aji Kretket, Sang Hyang Siwer Mas, Sang Hyang Sara Sija Maya Hireng, dan lain-lain yang tidak diketahui tingkatannya yang mana lebih tinggi dan yang mana lebih rendah.
Hanya mereka yang mempraktekkan ilmu-ilmu tersebut yang mengetahuinya.
Tingkatan Leak pun sebenarnya sangat banyak. Namun karena suatu kerahasiaan yang tinggi, jadinya tidak banyak orang yang mengetahui. Mungkin hanya sebagian kecil saja dari nama-nama tingkatan tersebut sering terdengar, karena semua ini adalah sangat rahasia. Dan tingkatan-tingkatan yang disampaikan pun kadangkala antara satu perguruan dengan perguruan yang lainnya berbeda. Demikian pula dengan penamaan dari masing-masing tingkatan ada suatu perbedaan. Namun sekali lagi, semuanya tidak jelas betul, karena sifatnya sangat rahasia, karena memang begitulah hukumnya.
Setiap tingkat mempunyai kekuatan tertentu. Di sinilah penganut leak sering kecele, ketika emosinya labil. Ilmu tersebut bisa membabi buta atau bumerang bagi dirinya sendiri. Hal inilah membuat rusaknya nama perguruan. Sama halnya seperti pistol, salah pakai berbahaya. Makanya, kestabilan emosi sangat penting, dan disini sang guru sangat ketat sekali dalam memberikan pelajaran.
Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta sumber penyakit, atau aji ugig bagi sebagian orang. Padahal ada aliran yang memang spesial mempelajari ilmu hitam disebut penestian. Ilmu ini memang dirancang bagaimana membikin celaka, sakit, dengan kekuatan batin hitam. Ada pun caranya adalah dengan memancing kesalahan orang lain sehingga emosi. Setelah emosi barulah dia bereaksi.
Emosi itu dijadikan pukulan balik bagi penestian. Ajaran penestian menggunakan ajian-ajian tertentu, seperti aji gni salembang, aji dungkul, aji sirep, aji penangkeb, aji pengenduh, aji teluh teranjana. Ini disebut pengiwa (tangan kiri). Kenapa tangan kiri, sebab setiap menarik kekuatan selalu memasukan energi dari belahan badan kiri.
Pengwia banyak menggunakan rajah-rajah ( tulisan mistik) juga dia pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan “dijamin tidak bisa dirontgen dan di lab” dan yang paling canggih adalah cetik ( racun mistik). Dan aliran ini bertentangan dengan pengeleakan, apabila perang beginilah bunyi mantranya, "ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung leak, mapan aku mapawakan ……….."
Yang paling canggih adalah cetik (racun mistik). Aliran ini bertentangan dengan pengeleakan. Apabila perang, beginilah bunyi mantranya; ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung leak, mapan aku mapawakan segara gni………..…
Ilmu Leak ini sampai saat ini masih berkembang karena pewarisnya masih ada, sebagai pelestarian budaya Hindu di Bali dan apabila ingin menyaksikan leak ngendih datanglah pada hari Kajeng Kliwon Enjitan di Kuburan pada saat tengah malam.




Sumber : facebook Nusa Penida Destinations

Lontar Leak Bali dan Jenis Pengleakan

Lontar Leak Bali dan Jenis Pengleakan

Di pulau Bali,  Lontar adalah sebagai salah satu Sastra dari daun-daun pohon siwalan yang sudah tua. Lontar dengan segala isinya merupakan salah satu warisan kekayaan rohani orang Bali yang memiliki arti yang sangat penting dan strategis. Sastra / Lontar-lontar di Bali, secara kualitatif maupun kuantitatif memiliki nilai yang sangat berharga.

Pembagian kepustakaan lontar Bali lebih disistematiskan menjadi :

Weda (weda, mantra, kalpasastra);
Agama (palakerta, sasana, niti);
Wariga (wariga, tutur, kanda, usada);
Itihasa (parwa, kakawin, kidung, geguritan);
Babad (Pamancangah, usana, uwug), dan
Tantri (tantri, satua).
Pada artikel ini  akan sedikit mengungkapkan dari salah satu Lontar yang dalam kategori Trantra dan saya spesifikan isinya khusus pada bagian Pangleakan. Sebagai  refrensi tentang lontar pengleakan diantaranya; “Lontar Tantra Bhairawa, Kanda Pat dan Siwa Tantra”.

Istilah Tantrayana berasal dari akar kata Tan = yang artinya memaparkan kesaktian atau kekuatan daripada Dewa itu. Di India penganut Tantrisme lebih banyak terdapat di India Selatan dibandingkan dengan India Utara.

Kitab kitab yang memuat ajaran Tantrayana banyak sekali kurang lebih ada 64 macam antara lain : Maha Nirwana Tantra, Kularnawa Tantra, Tantra Bidhana, Yoginirdaya Tantra, Tantra sara, dsb.
Dari Tantrisme munculah suatu faham “BHIRAWA” yang artinya hebat.

Paham Bhirawa secara khusus memuja kehebatan daripada sakti, dengan cara cara yang spesifik.  Bhairawa inipun sampai berkembang ke Cina Tibet, dan Indonesia.
Di Indonesia masuknya saktiisme, Tantrisma dan Bhairawa, dimulai sejak abad ke VII melalui kerajan Sriwijaya di Sumatra, sebagaimana diberikan pesaksian oleh prasasti Palembang tahun 684, berasal dari India selatan dan tibet.

Perkembangan Saktiisme di Bali juga menjurus dua aliran mistik yaitu “PENGIWE & PENENGEN”
Dari Pengiwa munculah pengetahuan tentang “LEYAK”.

DESTI = Serana, TELUH = cetik TARANJANA = yang bisa terbang dan WEGIG = bebeki.

Dari Penengen muncullah pengetahuan tentang “KEWISESAN” dan “PRAGOLAN” = mantra.

Pengiwa berasal dari sistem “Niwerti” dalam doktrin Bhairawa, sedangkan penengen berasal dari sistem “Prawerti” dalam doktrin Bhairawa.

Selain itu beberapa formula dalam Atharwa Weda mengilhami mistik ini. Adapun kitab kitab Tantrayana di Indonesia antara lain: TANTRA WAJRA DHASUBUTHI CANDARA BHAIRAWA dan SEMARA TANTRA

Pada Jaman Raja Udayana yang berkuasa di Bali pada abab ke 16, saat I Gede Basur masih hidup yaitu pernah menulis buku lontar Pengeleakan dua buah yaitu “Lontar Durga Bhairawi” dan “Lontar Ratuning Kawisesan”. Lontar ini memuat tentang tehnik-tehnik Ngereh Leak Desti.

Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut leak, yang ada adalah “liya, ak” yang artinya lima aksara(memasukkan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu.

Lima aksara tersebut adalah Si, Wa, Ya, Na, Ma.

Si adalah mencerminkan Tuhan.
Wa adalah anugerah,
Ya adalah jiwa.
Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan.
Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa.
Kekuatan aksara ini disebut panca gni(lima api). Manusia mempelajari kerohanian apapun, ketika mencapai puncaknya pasti akan mengeluarkan cahaya(aura), cahaya ini keluar melalui lima pintu(indria)tubuh yaitu: telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan namun pada umumnya cahaya itu keluar melalui mata dan mulut.

Tempat bermain-main leak adalah Kuburan. Apabila ada orang yang baru meninggal, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar roh orang yang meninggal mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya.

Doa leak tersebut berbunyi: Ong gni brahma anglebur panca maha bhuta, anglukat sarining merta. mulihakene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahotama. ong rang sah, wrete namah.
Di Bali kuburan sering identik dengan keramat, seram karena seling muncul hal-hal aneh.  kenapa ? karena disinilah tempatnya roh berkumpul dalam pergolakan spirit. Sensasi yang  datang  dari orang yang melakukan Pangleakan tersebut adalah bisa keluar dari tubuhnya melalui ngelekas atau ngerogo sukmo.
Kata ngelekas artinya kontraksi batin agar badan astral kita bisa keluar. Inilah alasanya orang ngeleak. Roh bisa berjalan keluar dalam bentuk cahaya melesat dengan cepat, inilah yang disebut endih. Bagi yang mempelajari kerohanian apa saja, apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura). Cahaya ini keluar melalui lima pintu indria tubuh yakni telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan.

Endih ini adalah bagian dari badan astral manusia (badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu). Di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain. Dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya.
Leak mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang dipelajari. Ada tujuh tingkatan leak :

Leak barak (brahma). Leak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api.
Leak bulan,
leak pemamoran,
Leak bunga,
leak sari,
leak cemeng rangdu,
leak siwa klakah. Leak siwa klakah inilah yang tertinggi. Sebab dari ketujuh cakranya mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya.
Tingkatan leak paling tinggi menjadi bade (menara pengusung jenasah), di bawahnya menjadi garuda, dan lebih bawah lagi binatang-binatang lain, seperti monyet, anjing ayam putih, kambing, babi betina dan lain-lain. selain itu juga dikenal nama I Pudak Setegal (yang terkenal cantik dan bau harumnya), I Garuda Bulu Emas, I Jaka Punggul dan I Pitik Bengil (anak ayam yang dalam keadaan basah kuyup).

Dari sekian macam ilmu Pengleakan, ada beberapa yang sering disebut seperti

Bajra Kalika yang mempunyai sisya sebanyak seratus orang,
Aras Ijomaya yang mempunyai prasanak atau anak buah sebanyak seribu enam ratus orang. Di antaranya adalah I Geruda Putih, I Geringsing, I Bintang Sumambang, I Suda Mala, Pudak Setegal, Belegod Dawa, Jaka Tua, I Pering, Ratna Pajajaran, Sampaian Emas, Kebo Komala, I Misawedana, Weksirsa, I Capur Tala, I Anggrek, I Kebo Wangsul, dan I Cambra Berag. Disebutkan pula bahwa ada sekurang-kurangnya empat ilmu bebai yakni I Jayasatru, I Ingo, Nyoman Numit, dan Ketut Belog. Masing-masing bebai mempunyai teman sebanyak 27 orang. Jadi secara keseluruhan apabila dihitung maka akan ada sebanyak 108 macam bebai.
Macam-macam ilmu pengLeakan lainnya :
Aji Calon Arang, Ageni Worocana, Brahma Maya Murti, Cambra Berag, Desti Angker, Kereb Akasa, Geni Sabuana, Gringsing Wayang, I Tumpang Wredha, Maduri Geges, Pudak Setegal, Pengiwa Swanda, Pangenduh, Pasinglar, Pengembak Jalan, Pemungkah Pertiwi, Penyusup Bayu, Pasupati Rencanam, Rambut Sepetik, Rudra Murti , Ratna Geni Sudamala, Ratu Sumedang, Siwa Wijaya, Surya Tiga Murti, Surya Sumedang, Weda Sulambang Geni, keputusan Rejuna, Keputusan Ibangkung buang, Keputusan tungtung tangis, keputusan Kreta Kunda wijaya, Keputusan Sanghyang Dharma, Sang Hyang Sumedang, Sang Hyang Surya Siwa, Sang Hyang Geni Sara, Sang Hyang Aji Kretket, Sang Hyang Siwer Mas, Sang Hyang Sara Sija Maya Hireng, dan lain-lain yang tidak diketahui tingkatannya yang mana lebih tinggi dan yang mana lebih rendah.
Hanya mereka yang mempraktekkan ilmu-ilmu tersebut yang mengetahuinya.

Setiap tingkat mempunyai kekuatan tertentu. Di sinilah penganut leak sering kecewa, ketika emosinya labil. Ilmu tersebut bisa membabi buta atau bumerang bagi dirinya sendiri. Hal inilah membuat rusaknya nama perguruan. Sama halnya seperti pistol, salah pakai berbahaya. Makanya, kestabilan emosi sangat penting, dan disini sang guru sangat ketat sekali dalam memberikan pelajaran.

Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta sumber penyakit, atau aji ugig bagi sebagian orang. Padahal ada aliran yang memang spesial mempelajari ilmu hitam disebut penestian. Ilmu ini memang dirancang bagaimana membikin celaka, sakit, dengan kekuatan batin hitam. Ada pun caranya adalah dengan memancing kesalahan orang lain sehingga emosi. Setelah emosi barulah dia bereaksi.
Pengwia banyak menggunakan rajah-rajah ( tulisan mistik) dan dia juga pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan “dijamin tidak bisa dirontgen dan di lab”. Aliran ini bertentangan dengan pengeleakan, apabila perang beginilah bunyi mantranya, “ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung leak, mapan aku mapawakan ………..”Sumber:http://www.komangputra.com/

Rabu, 31 Agustus 2011

Tradisi Ngejot Di Bali


Ngejot bagi kalangan adat masyarakat Bali adalah sebuah pemberian kepada orang lain dalam rangka sebuah kegiatan.Biasanya yang di-ejot atau diberikan tersebut adalah berupa makanan terkait dengan adanya suatu acara adat atau upacara tertentu yang dilaksanakan dimiliki oleh seseorang atau keluarga.Misalnya saja seseorang melakukan upacara selamatan anaknya seperti bulan pitung dina,otonan,odalan,nganten,metatah,atau yang lainya,kemudian yang punya gawe ngejot kepada masyarakat ,kepada saudaranya.Ngejot itu sendiri  memiliki fungsi sebagai rasa permakluman kepada yang diberi jotan bahwa yang ngejot tersebut memiliki acara tertentu.Yang kedua jotan itu dapat berfungsi  sebagai undangan untuk dating ketempat orang yang ngejot tersebut.Yang lain fungsinya adalah  untuk ucapan terima kasih karena yang diberi jotan tersebut telah membantu dalam penyelesaian sebuah upacara tertentu yang dilakukan oleh orang yang member jotan tersebut.
       Yang Di-jot-kan tersebut biasanya berupa nasi  berisi bermacam olahan seperti misalnya lawar,sate,jukut-jukut,be nyuh atau yang lain sesuai dengan keinginan yang ngejot tersebut.Bentuk nasi jotan tersebut  juga ada bermacam-macam.Ada yang berbentuk nasi ungkus/terbungkus,ada yabg berbentuk nasi punjung(dibentuk menggunakan wadah tertentu)dan lain-lain.Semua memiliki arti yang mendalam .Kalau nasi jotan tersebut berbentuk tetendingan lengkap dengan sate dan nasi punjungan maka jotan tersebut tidak saja sebagai sebagai sebuah permakluman namun juga mengandung makna sebagai sebuah undangan kepada yang diberikan jotan tersebut.Istimewanya lagi dari jotan tersebut dapat dilihat dari jumlah sate yang menyertai nasi tersebut.Kalau misalnya nasi dan lauk tersebut berisi sate dua batang,maka itu hanyalah sebuah permakluman.Jika satenya ada enam,delapan atau duabelas ini adalah suatu yang sangat istimewa sekali dan memang sangat diharapkan sekali kedatangannya dan orang yang diberikan sate roras(duabelas batang)tersebut dianggap sebagai seorang yang istimewa.Seperti misalnya surya atau Ida bagus,sangging atau tukang gender,atau orang-orang yang sangat berperan dalam sebuah upacara.
       Kemudian apabila dalam jotan tersebut ada nasi yang dibungkus biasa maka artinya hanyalah sebuah pemberitahuan atau sekedar ucapan terima kasih dan yang diberikan nasi jotan model demikian hanyalah orang-orang yang masih dalam lingkungan keluarga dekat.Dalam adat ngejot di Bali banyak sekali kasus yang tak diinginkan muncul seperti percekcokan keluarga akibat ngejot tersebut.Seperti misalnya ada salah seorang dari orang yang diberi jotan tersebut makan nasi jotan tersebut,kemudian dalam beberapa saat ia sakit perut,maka kontan saja orang yang memberi jotan tersebut menjadi sasaran tuduhan bahwa nasi jotan tersebut telah berisi cetik(racun).Demikian pula ada pula yang menitipkan cetik kepada orang yang tidak disukainya melalui nasi jotan tersebut.Seperti misalnya si A berselisih dengan si B,kemudian ada keluarga si C yang mempunyai hajatan,kemudian mengejot kepada si B.Maka si A menggunakan kesempatan jotan si C dengan memberikan cetik sehingga si B mengalami sakit.Jadi yang menjadi sasaran tuduhan kemudian adalah si C,sedangkan si A selamat.
       Ada lagi bahwa kejadian karena saking banyaknya ngejot ,ada salah satu atau lebih dari masyarakat atau tetangga ,bahkan sering sekali keluarga dekat tak dapat jotan.Sayang hal ini sering ditanggapi sebagai sebuah sentiment pribadi yang menyebabkan hubungan mereka menjadi tak harmonis.Padahah hal tersebut tak disengaja.Saking banyaknya ngejot dan jaraknya juga jauh,memerlukan waktu yang lama,sering sekali jotan sampai di tempat tujuan keadaannya sudah basi.Karena sudah basi kemudian oleh penerima jotan tersebut diberikan celeng atau dibuang.Nah pas suatu ketika ada yang melihat ketika nasi tersebut dibuang,kini kembali muncul masalah bahwa si Anu membuang nasi jotan yang diberikan si A sehingga akhirnya,disangka bahwa si Anu tak menerima nasi jotan,atau melecehkan jotan tersebut,sehingga apa yang terjadi ?ujung –ujungnya mereka menjadi tak tegur sapa akibat membuang nasi  jotan.Itulah nasi jotan yang memiliki nilai ganda,satu sebagai rasa persaudaraan ,keluarga,dan persatuan.Namun dilain pihak juga rentan menimbulkan suatu yang tak  diinginkan seperti beberapa contoh kejadian di atas.Yah itulah adat memang memiliki dua sisi.Namun sayang sekali kita lebih sering terjebak dalam sisi negative dari jotan tersebut,dan segaja membesar-besarkannya yang berujung pada sentimen pribadi,dan perpecahan dikalangan masyarakat adat.               

Rabu, 17 Agustus 2011

ENGKIK-ENGKIK ENGKIR


 Pernah mendengar burung engkik-engkik engkir? Atau  paling tidak mendengar suaranya yang rada-rada sedih memelas di kejauhan yang berbunyi”engkikkk… engkkiiikkk …engkiiiirrrrr….”suaranya mengundang rasa iba,kerena ia berbunyi kadangkala disiang hari,pagi hari bahkan pada malam hari.Rupa dari burung ini mirip seperti burung crucuk dengan ukuran yang juga sangat mirip.Biasa burung ini muncul ketika musim hujan akan berakhir yakni pada sasih kedasa atau sekitar bulan Maret – April.Burung ini muncul setiap setahun sekali,kemudian banyak mitos yang menyertai kehadiran burung ini.Konon burung ini akan melahirkan anaknya,namun sehabis melahirkan,maka dadanya akan pecah dan ia segera akan mati.Nah kedatangan kematiannya tersebutlah yang diratapi oleh burung tersebut dengan mengalunkan suara yang sedih.Diyakini pula burung ini adalah burung yang sedang meratapi nasibnya dengan megalunkan suara sedih engkik-engkik engkir.Katanya burung ini merasa sedih karena segera akan meninggalkan anaknya yang baru lahiruntuk ditinggal mati,tak ada yang mengasuh.Karena itulah ia menangis sedih pagi,siang dan malam.
       Kemudian ada mitos yang menyatakan bahwa burung ini adalah jelmaan dari atma-atma kesasar atau roh-roh gentayangan yang sedang mendapatkan hukuman.Atau roh-roh yang yang tak mengetahui dimana ia berada,karena ia diliputi oleh kebingungan dan ketakutan,sehingga dengan demikian ia merasa ketakutan dan mengumandangkan suara yang sedih di atas pohon.Terlepas dari mitos yang berkembang secara turun temurun di  masyarakat ,apa sebenarnya burung engkik-engkik engkir tersebut ?.Sejatinya burung tersebut adalah burung biasa dengan suara yang memeng mengalun sedih,terdengar sampai pada jarak yang cukup jauh.Memang begitulah kicauannya.Mengenai postur tubuhnya sangat  sangat mirip dengan burung crucuk,warnanya abu-abu,sedangkan di bagian kepala sedikit agak kelabu kebiruan.Kehadirannya pada bulan Maret – April.Karena memang burung ini adalah burung yang mengikuti arus hujan,sehingga ia harus bermigrasi dari satu tempat ketempat lainnya.Kebetulan bahwa hujan di Bali berlangsung pada bulan Nopember sampai  April maka burung ini muncul pada bulan Maret – April atau mungkin mendahului yakni pada bulan Februari,tergantung dari siklus hujan.Burung ini pada musim Maret – April itu adalah masanya untuk berkembang biak atau kawin dengan melantunkn suara yang merdu untuk menarik pasangan lawan jenisnya.Kedian ketika perkawinan berlangsung,burung ini tak punya keterampilan membuat sarang,sehingga untuk urusan bersarang ia harus menjadi parasit.Maksudnya adalah ia akan mencari sarang burung crucuk atau burung kepicitan atau burung cinglar yang sedang bertelur.Ketika pemilik sarang tak ada,maka burung engkik-engkik engkir tersebut bertelur disarang burung tersebut.Agar tidak kentara perbuatannya,maka ia menjatuhkan telur burung pemilik sarang,sehingga ketika datang burung pemilik sarang (burung crucuk atau cinglar)untuk mengeraminya,maka burung crucuk mengira bahwa ia mengerami telurnya sendiri.Padahal telur yang di eraminya adalah telur burung engkik-engkik engkir.Itulah sebabnya kalau di perhatikan disekitar burung engkik-engki engkir berbunyi,maka disekitarnya pasti ada burung crucuk atau burung cinglar.Mungkin disekitar tersebut sedang ada burung crucuk yang sedang bertelur.
       Setelah menetes,maka burung crucuk secara tak sengaja akan mengasuh anak dari burung engkik-engkik engkir. Ketika itu induk burung engkik-engki engkir tersebut telah meninggalkan daerah tersebut untuk bermigrasi kedaerah lainnya.Si burung burung pengasuh ini akan setia mengasuh dan membesarkan anak yang bukan anak kandungnya sendiri.Karena burung ini juga mirip dengan dirinya,demikian pula dengan telurnya ukurannya sangat mirip,sehingga tidak mengundang kecurigaan burung crucuk.Itulah kehidupan biologis dari burung engkik-engkik engkir yang curang.Ia mengorbankan anak orang lain demi kelangsungan hidup anaknya sendiri.Ia sendiri adalah bukan seekor burung yang trampil karena tak bisa membuat sarang .Burung ini juga burung malas,karena menyerahkan pengasuhan  anak pada burung lain.Ia adalah type burung yang sangat tega meninggalkan anaknya mengembara ke tempat-tempat yang ia ingini.Nah terkait dengan misteri  burung Engkik-engkik engkir yang ditandai dengan suara yang mengalun lantang,biasnya ia berbunyi diatas pucuk pohon yang tinggi.Dengan frekwensi serta suara yang sangat tinggi kuat dan ditempat yang tinggi,maka suaranya terdengar sampai kejarak yang jauh.Inilah pada jaman dahulu dipakai sebagai tanda Sasih Kedasa(Bulan kesepuluh dalam penanggalan Bali).Terkait dengan tanda dari burung ini,konon kabarnya Ida Cokorda Pemecutan dari Puri Pemecutan sangat meyakini kehadiran burung ini sebagai pertanda Sasih Kedasa.Konon sebelum Ida Cokorda Pemecutan mendengar burung tersebut berbunyi lantang,maka tidak akan diadakan upacara odalan atau Ngedasa di Pura Tambangan Badung.
       Demikian kabarnya mengenai misteri dari burung Engkik-engkik Engkir yang banyak diceritakan di Bali.                               

ARYA KETUT PUCANGAN


Di ceritakan Arya kenceng sekian tahun lamanya berputralah seorang laki-laki kelahiran brahmana.Setelah remaja putranya selalu berteman dengan putra Dalem atau putra Arya Sentong yang sama-sama kelahiran brahmana.Tidak lama kemudian wafatlah Arya Kenceng.Tak sedikit kesedihan di pihak punggawa bahudanda.Kini saatnya upacara pelebon dilaksanakan sesuai dengan amanat Dalem agar memakai Bade tingkat sebelas.Upacara ini diwariskan pada seluruh keturunannya hingga kini.Untuk Sanghang Pitra dibuatkan suatu pedarman bernama Batur.Tempat ini menjadi tempat persembahyangan para leluhur dan keluarganya selama-lamanya.
                Sepeninggal Arya Kenceng  yang memerintah Tabanan,beliau meninggalkan tiga orang putra dan seorang putri.Yang tertua bernama Dewa Raka bergelar MegadaPrabhu,yang kedua bernama Dewa Made bergelar Sri Magada Nata,yang kemudian menjadi Arya Ngurah Tabanan,kedua-duanya kelahiran brahmana.Dua putra yang sedang jejaka bernama Kyai Tegeh (Tegeh Kori)mengikuti adiknya terbungsu (wanita)yang lahir dari Tegeh Kori.Tersebutlah keempat putra raja,dimana Sri Magada Prabhu tidak suka menerima amanat menggantikan kedudukan ayahnya,karenanya diserahkan kepada Sri Magada Nata untuk menggantikan kedudukan ayahnya yang bergelar Arya Ngurah Tabanan.
                Sedangkan Kyai Tegeh Kori mencari tempat baru di daerah Badung,disebelah utara kuburan Badung ,beliaulah yang membuat bendungan di Desa Pegat,dan menurunkan wangsa Tegeh Kori.Yang bungsu menetap di keraton. Diceritakan Sri Magada Prabhu dan Sri Magada Nata keduanya sama-sama pemberani dan perwira serta sakti tak terklahkan dalam medan pertempuran,beliau biasa bermain-main selalu berlatih pedang dalam perang tanding.Beliau sama- sama kebal,Sri Magada Prabhu mempunyai seorang Putri,dipelihara oleh yang memerintah di Pucangan.Ada lagi putra angkatnya,yaitu :Ki Tegeh Buwahan,Ki Bendesa di Tajen, Ki Telabah di Rejasa sama-sama keturunan Ngurah Tegeh Alo,Ki Bendesa Beng keturunan Pasek Buduk.tak diceritakan semuanya.
                Diceritakan Sri Magada Prabhu setelah beberapa tahun lamanya,akhirnya wafat dan meninggalkan keturunannya.Kembali diceritakan Sri Magada Nata atau Sri Arya Ngurah Tabanan beliau sangat terkenal dan berwibawa serta bijaksana dalam mengamankan Negara.Beliau selalu menghadap Dalem Ketut yang bergelar Sri Smara Kepakisan yang beristana di Swecapura Linggarsapura,Sukasada atau Gelgel dan sebagai putra dalem,oleh Dalem Wau Rauh.Yang terakhir adalah Sri Kresna Kepakisan beristana di Samprangan(sebagai adik oleh dalem Ile).Arya Ngurah Tabanan berputra 7 orang,lahir dari dua ibu para sanghyang.Yangtertua bernama Arya Ngurah Langwang,yang kedua Ki Gusti Madyatara(Ki Gusti Made Kaler),Yang ketiga bernama Ki Gusti Ketut Dangin Pangkung.Dan yang lain ibu adalah Ki Gusti Nengah Samping Boni,Ki Gusti Nyoman Ancak, dan Ki Gusti Ketut Lebah.
                Diceritakan selama Sri Magada Nata memerintah di Tabanan,timbullah sesuatu atas kehendak Sanghyang Parama Kawi,dimana ajumpung rambut Dalem sejak kecil.dalem melimpahkan kepercayaan dan perhatian  yang sangat besar ,lalu diutuslah untuk pergi ke Jawa meninjau kerajaan Wilwatikta.Sungguh sepi keadaan Negara.Terjadilah huru-hara yang dilakukan oleh bahudanda dan golongan petani karena masuknya agama Islam Akhirnya beliau kembali ke Bali.Tiada diceritakan tentang perjalanan beliau, tersebutlah adiknya di Pucangan yang di peristri oleh Dalem Gelgel,diserahkan kepada Kyai Asak  di Desa Kapal yang masih berkemenakan Arya Wongaya Kepakisan,seorang kesatria dari Kediri.Sesampai Sri Magada Nata di Keraton,akhirnya menghadap Dalem  dan diketahui adiknya diserahkan Kyai Asak.Sedih dan Marah hatinya terhadap Dalem.Maka beliau menyerahkan keraton dengan segala isinya dan kekuasaan Negara kepada putranya  yang tertua  bernama Arya Langwang dan tetap bergelar Arya Ngurah Tabanan.Sri Magada Nata berkeinginan meninggalkan keratin dan mendirikan sebuah pondok di tengah hutan,di sebelah tenggara keratin Pucangan yang dinamai Kubon Tingguh.Tempat itu merupakan tempat berduka cita.Kemudian beliau menikah dengan putrid Bendesa Pucangan yang masih kemenakan sepupu dari yang berasrama di Kubon Tingguh.Lahirlah seorang putra yang sangat sempurna bernama Kyai Ketut Bendesa(Kyai Pucangan).Setelah pantas memakai kain dan keris lalu diserahkan kepada keluarga Ngurah Tabanan dan menetap bersama-sama di daerah Buwahan.Disana beliau merasakan kebahagiaan.Setelah beberapa tahun berasrama di Kebon Tingguh,beliau wafat.Diselenggarakan upacara menurut adat raja sebagaimana mestinya.
                    Tersebutlah kisah Kyai Pucangan,kini telah remaja tetapi tak pernah tidur di keratin.setiap malam beliau tidur di rumah seorang petani atau dibalai banjar,tempat-tempat berjualan,dan di pondok-pondok orang. Tujuanya untuk menyelami kemelaratan hidup dan kebahagiaan nyata sehari-hari .Karenanya ,jika malam hari selalu ada yang berjalan-jalan,melihat nyala api di tepi jalan.Tentu orang akan menuduh ini akibat ulahnya.Jika sudah dekat api seketika lenyap dan hanya Arya Ketut Pucangan yang tampak sedang tidur.Semakin banyak orang mengetahui hal itu.Setiap Arya Ketut Pucangan sedang tidur disana selalu Nampak api menyala.Hal itu terdengar oleh Prabhu Pucangan,lalu memerintahkan adiknya Kyai Pucangan  untuk merabas pohon beringin di luar keraton karena telah besar dan tinggi,takut akan malapetaka olehnya.Sebelumnya tak ada orang yang berani merabas pohon beringin diluar keraton tersebut,namun Kyai Pucangan tak berpikir panjang lebar, beliau terus memanjat serta merabas dengan belakas(sejenis golok).Sekejap mata cabang- cabangnya habis dirabas.Tinggal  puncaknya menjulang tinggi dan terus di panjat dan ditebang.Setelah itu lalu naik kepuncaknya dan duduk sambil menunjukkan kepada khalayak ramai atas keberaniannya.Melihat hal itu orang menjadi heran dan kaget dan ngeri.Barulah teringat akan hubungan kekeluargaan dengan Prabhu Buwahan pada Zaman dahulu.Jugaterhadap keluarga-keluarga lainya sama-sama dari satu  keturunan.Sangat mengherankan keberanian Kyai Ketut Pucangan ,beliau dititahkan untuk turun.Mendengar perintah raja,maka Ketut Pucangan lalu turun dan menghadap.Sejak itulah Ketut Pucangan di beri gelar Ketut Notor Wandira,dan juga anugrah sebilah keris bernama I Cekele.
                Kini diceritakan Arya Notor Wandira telah dewasa beliau mengambil istri dari Desa Buwahan.Mempunyai dua orang putra bernama Kyai Gede Raka dan Kyai Gde Rai.Setelah berputra,berkeinginan memegang tampuk pemerintahan,karenanya beliau melakukan semadi ke gunung Beratan dan Batukaru.Tidak diceritakan dalam yoga semadinya,terdengarlah sabda”Wahai Sang Arya Notor Wandira,aku tak wajar menganugrahi kau sesuatu.Sebaiknya kau pergi ke Gunung Batur,memohonlah kepada Bhatari Danu.Tentu kau akan dikabulkan!” Setelah demikian,dn berhentikanlah yoga semadinya dan pulang kerumah.Tak terungkapkan setiba di keratin,sehingga pada suatu masa selalu berkunjung kemana-mana.Sampailah di Desa Tambiak dan bertemu dengan anak laki-laki berwajah hitam,berambut merah,bergigi putih yang lahir dari belahan batu di Pura Tambiak.Lalu ditanyakankeadaan dirinya,dia tak tahu akan dirinya.Itu sebabnya dipungut dijadikan hamba sahaya oleh Arya Notor Wandira,dinamai Ki Tambiak yang kemudian bernama Andagula.Pada suatu ketika teringatlah akan sabda Betara Batukaru,lalu berangkat bersama ki Tambiak ke Selegiri.Namun jalannya salah arah karena kegelapan,akhirnya tiba di Panarajon.Di situlah mulai melakukan yoga semadi,memohon kepada Sanghayang Wisesa.Tiba-tiba nampaklah Sanghyang Panarajon dan bersabda,”wahai Kyai Pucangan,perbuatanmu ini salah terhadapku,aku Hyang Panarajon,aku Sedahan Sanghyang Batur.Hentika yoga semadimu,pergilah ke Gunung Batur,aku akan menyertai perjalananmu!”Akhirnya dihentikanlah yoga semadinya.Perjalanan diteruskan kearah tujuan diikuti oleh Ki Tambiak.Tak lama kemudian sampailah di Selegiri,dan terus duduk beryoga.Pada waktu itu Nampak olehnya Sanghyang Danu,seraya bersabda”Duh Kyai Pucangan,Hentikanlah yoga semadimu ,akan aku penuhi permintaanmu.Aku tahu akan cita-citamu .Bantulah aku menyeberangi danau!Walau seberat itu Syaratnya Arya Pucangan tak menolaknya.Bahkan makin teguh hatinya,beliau tidak merasa takut karena tanpa berdasarkan rajah tamah.Lalu diusunglah Bhatari Danu ketengah danau,namun pergelangan kakinya tidak tenggelam.Dengan demikian,sampailah di tepi danau Bersabdalah Bhatari Danu”nah selesailah ujian yang kuberikan.Kau Arya Pucangan tercapailah cita-citamu sebagai prabhu.Pergilah daerah Badung menghadap Anglurah Tegeh Kori.Di sana akan mendapat kebahagiaan hidup.”Demikian sabda Bhatari,yang selalu diantar oleh Hyang Panarajon.Kemudian beliau kembali ke Buwahan bersama Ki Tambiak.
                Tak diceritakan Arya Notor Wandira di keratin ,beliau bersama Ki Tambiak menuju Badung,bermalam di rumah De Beruyut Lumintang.Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan bersama De Beruyut Lumintang.Setibanya di persawahan Tegal lalu menghadap ke keraton.Nampak Kyai Tegeh Kori didampingi oleh beruyut Tegal.Kyai Pucangan Menghaturkan sembah sujud bersama keluarganya.Bergembiralah yang berkedatangan tamu,lebih-lebih masih hubungan sanak keluarga.Dikemudian hari berputralah beliau dan di beri nama Kyai Nyoman Tegeh.Putra Kyai Ngurah Tegeh Kori adalah Kyai  Gede Tegeh dan Kyai Made Tegeh,keduanya berkelakuan tidak baik dan tidak tahu dharma kerajaan hanya mengejar kepuasan nafsu dan tak mau mendengar nasehat orang tua.Disitulah Kyai Nyoman Tegeh ditetapkan dirumah Mekel Tegal  disertai rakyat 25 orang.Demikianlah perjalanan hidup Kyai Pucangan yang selalu mendampingi Kyai Ngurah Tegeh Kori,sehingga merasa berbahagia sebagai seorang satria utama dan Kyai Pucanganlah yang mendirikan Puri Pemecutan(kerajaan Bandana).         

Rabu, 10 Agustus 2011

KUNTI SRAYA

Dikisahkan di negeri Pandawa terjadi kekacauan yang disebaban oleh para Bhuta Kala yakni Bhuta Kalantaka dan Bhuta Kalanjaya.Terjadi malapetaka dan wabah penyakit,rakyat menjadi kacau dan tidak menentu.Berbagi upaya dilakukan untuk menaklukan kedua bhuta kala tersebut namun tidak berhasil.Kedua bhuta kala ini tidak dapat dikalahkan oleh para kesatria Pendawa bahkan Kresna pun turun tangan untuk menghadapi kedua bhuta kalaini,namun tidak bisa berbuat banyak.Kejadian ini diketahui oleh Dewi Kunti yang ternyata disebabkan oleh pengikut Betari Dalem(dewi Dhurga).Dewi Kunti berujar kepada Krisna "Coba saya yang akan bertanya kepada Bhetari Durga".Dewi Kunti kemudian bertanya kepada Betari Dalem(Dewi Dhurga).
      Dewi Kunti berangkat menuju ke Setra Gandamayu menghadap Ida Betari Dhurga.Setelah melakukan ritualnya,Kemudian Ida Betari Dalem menampakan diri beliau.Dewi Kunti bertanya kepada Hyang Betari kenapa kejadian di negeri Pendawa bisa terjadi ,apa sebabnya ? Betari bersabda "anakku Kunti,kau telah lupa dengan janjimu terdahulu kepadaku.Kau pernah berjanji memberikan anakmu sebagai korban kepada-Ku,ketika engkau meminta tolong kepada-Ku untuk menyelamatkan Pandawa ketika mendapat bahaya di goa gala-gala".Atas sabda dari Ida Betari Dhurga maka Dewi Kunti ingat dengan janjinya untuk menghaturkan anaknya yang kembar yakni Nakula dan Sahadewa kepada Ida Hyang Betari Dalem.Dewi Kunti urung melakukannya karena bagaimanapun kedua anak itu (Nakula dan Sahadewa) adalah anaknya walaupun anak itu anak tiri.Bagaimana kata masyarakat sampai harus mengorbankan anaknya sendiri untuk hal-hal yang tidak diinginkan.Itulah yang membuat murka Hyang Betari Dalem dan mengutus Kalika Maya (murid kepercayaan Betari) untuk masuk kedalam tubuh Dewi Kunti,yang menyebabkan Dewi Kunti menjadi kerasukan dan kehilangan kontrol.Dalam keadaan Kerasukan tersebut Dewi Kunti mengambil kedua putranya (Nakula-Sahadewa) untuk menghaturkan kepada Hyang Betari.
      Dewi Kunti yang dirasuki oleh Kalika Maya berhasil membawa Nakula-Sahadewa kehadapan Hyang Betari.Hyang Betari melihat dan ingin menaklukannya beberapa kali sebagai korban, namun tidak berhasil.Setelah dilihat-Nya secara baik-baik oleh Hyang Betari,beliupun merasakan keanehan kepada kedua anak ini.Akhirnya Hyang Betari mengetahui siapa sebenarnya kedua anak ini dan teringat pesan dari Betara Siwa.Kedua anak ini adalah penjelmaan Sanghyang Kumara-Kumari yang tidak lain adalah putra dari Betara Siwa dan Dewi Uma.Dulu ketika di Siwa Loka Hyang Betari Dalem adalah perwujudan Dewi Uma.Pada saat itu Dewi Uma memperlakukan Sanghyang Kumara-Kumari secara tidak adil (dianiaya).Kejadian ini diketahui oleh Betara Siwa yang akhirnya mengutuk Dewi Uma menjadi raksasa yang turun ke bumi  menjadi Hyang Bhairawi  berdiam di Setra Gandamayu.Adapun pesan Dewa Siwa kepada Dewi Uma sebelum turun ke bumi"Hai Dewi Uma,saat kau turun ke bumi kau akan menjadi raksasa (Bhairawi),tatkla Hyang Kumara-Kumari menjelma menjadi sepasang anak kembar,maka saat itulah kau memohon maaf dan mendapat penyupatan,untuk kembali menjadi Dewi Uma.Teringat akan hal tersebut,akhirnya Hyang Betari memohon maaf dan meminta penyupatan kepada kedua anak tersebut.Berubahlah Hyang Betari Dhurga (Bhairawi)menjadi Uma Dewi.Pada saat itu juga Dewi Uma memberikan anugrah kepada Nakula-Sahadewa.Akhirnya bencana di negeri Pendawa menjadi hilang normal kembali.